Yogyakarta Disapu Puting Beliung, 1 Tewas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, menjelaskan kondisi bencana banjir Garut dan Sumedang,  di kantor BNPB, 21 September 2016. TEMPO/Amirullah

    Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, menjelaskan kondisi bencana banjir Garut dan Sumedang, di kantor BNPB, 21 September 2016. TEMPO/Amirullah

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan hujan deras disertai angin puting beliung menerjang beberapa wilayah di Yogyakarta pada Kamis kemarin sekitar pukul 14.00.

    "Daerah yang paling terdampak adalah Kabupaten Sleman, meliputi Cebongan, Tempel, Margomulyo, Ngemplaksari, Kecamatan Seyegan," ucap Sutopo dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 6 Januari 2017.

    Sutopo berujar, puting beliung tersebut mengakibatkan pohon-pohon tumbang serta menimpa rumah, kendaraan, dan tiang listrik. Di Sleman, dampak dari puting beliung tersebar di 28 titik, di Yogyakarta 5 titik, dan Bantul 1 titik.

    Menurut Sutopo, kejadian itu menyebabkan 25 rumah rusak, 37 pohon tumbang, 2 titik jaringan listrik terganggu, 3 fasilitas umum rusak, 9 akses ruas jalan terganggu, serta 3 mobil dan 1 sepeda motor rusak.

    Selain itu, satu warga tewas akibat kejadian tersebut, yakni Suwandi, 65 tahun. Suwandi sedang berteduh di gazebo setengah jadi di persawahan Klepu, Sleman. Karena tidak kuat menahan hujan dan angin, bangunan pun roboh menimpa korban.

    Sutopo menuturkan untuk penanganan di Sleman telah didirikan posko lapangan di Balai Desa Sumberadi, Kecamatan Mlati. "Sedangkan untuk wilayah Yogyakarta, Bantul, Kulonprogo, dan Gunungkidul langsung ditangani BPBD setempat," ujar Sutopo.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.