Harga Meroket, Duh Petani Cabai di Lebak Malah Gigit Jari  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Darsim, 55 tahun, pemilik warung nasi di kota Subang, Jawa Barat, mengaku heran harga cabai rawit merah pasca libur tahun baruan meroket hingga Rp 100 ribu per kilogram, 3 Januari 2017. Ia belanja sayuran di pasar tradisional Terminal Baru.TEMPO/Nanang Sutisna.

    Darsim, 55 tahun, pemilik warung nasi di kota Subang, Jawa Barat, mengaku heran harga cabai rawit merah pasca libur tahun baruan meroket hingga Rp 100 ribu per kilogram, 3 Januari 2017. Ia belanja sayuran di pasar tradisional Terminal Baru.TEMPO/Nanang Sutisna.

    TEMPO.CO, Lebak -Sejumlah petani cabai di Kabupaten Lebak, Banten mengaku tidak untung besar, meski harga komoditas itu di distributor kini melonjak hingga Rp 80.000 per kilogram.

    "Kami justru merugi karena tanaman cabai diserang hama sehingga terpaksa dipanen lebih awal dan dijual dengan harga Rp20.000, padahal harga normal Rp50.000 per kilogram," kata Nanil, 50 tahun seorang petani Desa Malabar Kecamatan Cibadak Kabupaten Lebak, Kamis, 5 Januari 2017.

    Petani yang panen pada Desember-Januari 2017 dipastikan merugi karena tanamannya terserang hama patek yang mengangkibatkan cabai membusuk. Serangan hama hingga kini sulit dikendalikan, sehingga petani merugi.

    Harga cabai saat ini di tingkat distributor mencapai Rp. 80.000 per kilogram. Di pasar bertambah hingga mencapai Rp. 100.000. Sedangkan, harga cabai di petani Rp. 50.000 per kilogram.

    Semestinya, petani bisa mengeruk keuntungan besar dengan melonjaknya harga di pasaran. Akan tetapi, petani cabai merugi akibat serangan hama patek sehingga dilakukan panen lebih awal.

    "Kami setiap pekan memanen lebih awal atau cabai berwarna hijau sebanyak dua kuintal dengan harga Rp20.000 per kilogram akibat hama patek itu," tutur Nanil. Menurutnya, tanaman cabai miliknya seluas tujuh petak sawah itu tidak bisa dinikmati dengan tingginya harga di tingkat petani mencapai Rp. 50.000 per kilogram.

    Apabila, ia menjual cabai sebanyak tiga kuintal per minggu maka pendapatan petani mencapai Rp. 15 juta. Namun, saat ini dengan harga Rp20 ribu maka pendapatan sebesar Rp6 juta.

    "Saya kira tidak terbayangkan jika harga cabai itu melonjak maka petani dapat meraup keuntungan cukup besar," katanya.

    Begitu juga petani lainnya, Ahmad (50) warga Panggarangan Kabupqten Lebak kecewa karena tidak bisa meraup keuntungan besar saat harga cabai melonjak tinggi.

    Tanaman cabai miliknya terserang hama patek akibat curah hujan di daerah itu cenderung meningkat. Serangan hama itu, kata dia, sudah berlangsung empat pekan terakhir dan tidak bisa dikendalikan oleh petugas organisme pengganggu tanaman (POPT) setempat.

    "Kami terpaksa memanen lebih awal dibandingkan mengalami kerugian cukup besar," katanya.

    Ia mengatakan, jumlah petani cabai di wilayahnya mencapai 35 orang dan dipastikan mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah karena biaya produksi rata-rata Rp25 juta per hektar.

    Saat ini, kata Ahmad, pihaknya sangat berharap pemerintah memberikan bantuan sehingga petani bisa kembali menanam cabai. "Saya bingung sudah tiga kali dilakukan penyemprotan pestisida, tetapi hama itu tidak mati bahkan tanaman membusuk," katanya.

    Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Dede Supriatna mengatakan serangan hama itu akibat anomali cuaca yang sering hujan disertai kemarau. "Meskipun tanaman cabai terserang hama, namun bisa dipanen lebih awal meskipun tidak bisa meraup keuntungan lebih besar," katanya.

    ANTARA

    Simak Juga:
    Harga Melejit, Menteri Ini Sarankan Konsumsi Cabai Kering
    Istana Siapkan Paket Kebijakan Ekonomi ke-15
    Harga Cabai Samarinda Tembus Rp 200 Ribu Per Kilogram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Minta Lion Air dan Citilink Turunkan Harga Tiket LCC

    Pemerintah telah memerintahkan dua maskapai penerbangan domestik, Lion Air dan Citilink, untuk menurunkan harga tiket pesawat berbiaya murah.