Dewan Pers Buat Barcode untuk Melawan Media Massa Palsu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Yosep Stanley Adi Setyo dari Dewan Pers, memberikan pemaparan dalam acara diskusi ruang tengah yang membahas

    Yosep Stanley Adi Setyo dari Dewan Pers, memberikan pemaparan dalam acara diskusi ruang tengah yang membahas "Etika di Belakang Kamera : Benarkah Cover Majalah Tempo Melanggar Kode Etik" di kantor TEMPO, Jakarta, 21 Januari 2016. TEMPO/Fajar Januarta

    TEMPO.CO, Jakarta - Dewan Pers akan memberikan barcode kepada media massa yang sudah diverifikasi untuk melawan media palsu yang menyebarkan berita bohong.

    "Nanti ada barcode-nya, bahwa media ini terpercaya, terverifikasi di Dewan Pers. Ini juga bertujuan meminimalisir masyarakat dirugikan oleh pemberitaan," kata Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo kepada Antara di Jakarta, Rabu, 4 Januari 2017.

    Ia menuturkan barcode nantinya dapat dipindai dengan telepon pintar, selanjutnya terkoneksi data Dewan Pers yang menunjukkan data-data media terverifikasi, antara lain penanggung jawab serta alamat kantor.

    Langkah pemberian barcode akan dilakukan secara bertahap mulai 9 Februari 2017 saat penyelenggaraan Hari Pers Nasional (HPN) di Ambon, Maluku.

    Baca juga:
    Ini Materi Pelatihan Militer Australia yang Hina Indonesia
    Tak Dapat Dokumentasi Sidang Ahok, Begini Reaksi KY
    Luhut: Bebas Visa Beberapa Negara Dipastikan Dicoret

    Barcode yang kini masih dalam proses perancangan itu bukan berbentuk garis-garis, melainkan kotak-kotak.

    "Saat ini masih dirancang karena butuh melibatkan Kementerian Komunikasi dan Informatika, karena setiap media beda-beda," ujar Yosef.

    Yang menjadi pertimbangan, ujar dia, antara lain pilihan harus terkoneksi dengan International Standar Book Number (ISBN), sementara biasanya ISBN untuk buku, sedangkan media daring tidak memiliki ISBN. Pihaknya juga sedang mempelajari penerapan barcode untuk televisi dan radio.

    Setelah barcode diluncurkan, pihaknya juga akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai penggunanya.

    Pemberian barcode, menurut dia, pertama kali diterapkan di Indonesia karena media palsu hanya ada di Indonesia dan jika berhasil akan menjadi contoh.

    "Kalau berhasil, ini bisa menjadi cerita sukses ketika Indonesia menjadi tuan rumah World Press Freedom Day pada Mei 2017," kata Yosef.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.