Ini Komoditas Penyumbang Inflasi di NTB  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang merapihkan bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, 1 Februari 2016. Menurut Badan Pusat Statistuk Nasional inflasi Januari 2016 sebesar 0,51 persen, kelompok bahan makanan menjadi komponen pembentuk inflasi tertinggi pada Januari yaitu 2,2 persen. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Pedagang merapihkan bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, 1 Februari 2016. Menurut Badan Pusat Statistuk Nasional inflasi Januari 2016 sebesar 0,51 persen, kelompok bahan makanan menjadi komponen pembentuk inflasi tertinggi pada Januari yaitu 2,2 persen. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Mataram - Desember 2016, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami inflasi sebesar 0,63 persen atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 124,46 pada November 2016 menjadi 125,25 di Desember 2016. Angka inflasi ini berada di atas angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,42 persen.

    Untuk wilayah di NTB, Kota Mataram mengalami inflasi sebesar 0,75 persen dan Kota Bima mengalami inflasi sebesar 0,26 persen. “Inflasi sebesar 0,63 persen terjadi karena adanya kenaikan harga,” kata Kepala Badan Pusat Statistik NTB Endang Triwahyuningsih sewaktu merilis Berita Resmi Statistik di kantornya, Selasa sore, 3 Januari 2016.

    Kenaikan harga ditunjukkan dengan kenaikan indeks pada kelompok bahan makanan sebesar 2,45 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,6 persen; kelompok kesehatan 0,58 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,02 persen; serta kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,02 persen. Sedangkan penurunan indeks terjadi pada kelompok sandang sebesar 1,07 persen serta kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,06 persen.

    Simak:
    Empat Pencari Kayu Gaharu Hilang di Gunung Porkhison Aceh

    Menurut dia, komoditas terbesar penyumbang inflasi adalah beras, kue kering berminyak, bawang merah, cabai rawit, tongkol/ambu-ambu, bandeng/bolu, daging ayam ras, tongkol pindang, pisang, dan sawi hijau.

    Sebaliknya, komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya deflasi adalah emas perhiasan, angkutan udara, semen, tomat sayur, salak, bahan bakar rumah tangga, cabai merah, apel, pepaya, dan kerudung/jilbab.

    Laju inflasi NTB tahun kalender Desember 2016 sebesar 2,61 persen lebih rendah dibanding inflasi tahun kalender Desember 2015 sebesar 3,41 persen. Begitu juga laju inflasi tahun ke tahun Desember 2016 sebesar 2,61 persen lebih rendah dibanding laju inflasi tahun ke tahun di Desember 2015 sebesar 3,41 persen.

    Dari 82 kota yang menghitung IHK, tercatat 78 kota mengalami inflasi dan empat kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Lhokseumawe dengan 2,25 persen, diikuti Kota Kupang sebesar 1,96 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Tembilahan dan Kota Padang Sidempuan dengan 0,02 persen, diikuti Kota Cirebon sebesar 0,06 persen.

    Adapun deflasi terbesar terjadi di Kota Manado dengan 1,52 persen, dan deflasi terkecil terjadi di Kota Tegal sebesar 0,09 persen.

    SUPRIYANTHO KHAFID

    Baca juga:
    Ahmad Dhani Kembali Dipanggil Polda, Terkait Makar?
    Ajaib! Nyaris 20 Tahun Dua Pasang Suami-Istri Kuasai Klaten  



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.