5 Langkah Menghindari Penyebaran Berita Hoax

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 1stwebdesigner.com

    1stwebdesigner.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Maman Imanulhaq mengimbau masyarakat tidak diam melawan radikalisme di media sosial. Melalui pesan berantai, Maman menyebarkan strategi versinya untuk menampik berita bohong atau hoax yang dengan mudah menyebar di media sosial.

    Ada beberapa langkah yang menurut Maman patut dipatuhi untuk menghindari penyebaran berita hoax. Menurut Maman, kiriman berita hoax dan hasutan kebencian terhadap suatu suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) sering dianggap kebenaran karena dilakukan secara masif. Sehingga, Maman menilai akan lebih baik masyarakat bisa memilah berita yang berbau fitnah tersebut.

    “Langkah ini diinisiasi oleh Sekjen (sekretaris jenderal) PBNU. Dan akhirnya kumpul teman-teman yang punya kapasitas dan komitmen untuk melawan kelompok radikal. Karena medsos yang mereka gunakan betul-betul telah menghinakan akal sehat dan membahyaakan nilai kebangsaan dan nilai kemanusiaan,” kata Maman saat dikonfirmasi Tempo, Ahad malam, 1 Januari 2016.

    Baca juga:
    Berita Hoax, PBNU: Masyarakat Harus Tabayun  
    Jokowi Perintahkan Aparat Tindak Tegas Penyebar Hoax

    Adapun langkah pertama, Maman mendorong masyarakat untuk menyebarluaskan berita positif maupun tulisan kritis terkait isu terkini. Menurut Maman, orang baik yang diam akan dikalahkan oleh radikalisme di media sosial.

    Kemudian, yang kedua Maman menyarankan agar masyarakat memutus hubungan di media sosial dengan orang yang gemar menyebar kebencian. “Jangan ragu untuk ‘block’ jika Anda tidak suka berdebat,” Maman dalam potongan pesan berantai yang ia sebar lewat aplikasi Whatsapp beberapa waktu lalu.

    Ketiga, Maman menyadari, penyebar berita hoax memiliki pandangan bahwa jika kebohongan dilakukan dengan masih, lama-kelamaan akan dianggap sebagai fakta. Untuk itu, Maman mengimbau masyarakat untuk ikut membantu dalam menyebarkan klarifikasi atas berita hoax tersebut.

    Keempat, Maman menganjurkan agar masyarakat turut menyebarkan tulisan yang bernilai positif dan benar lewat pesan berantai. Sehingga, kabar tersebut tidak hanya dapat dibaca di media sosial. Selain itu, Maman menilai grup bincang-bincang juga perlu dibuat oleh teman-teman yang punya pemikiran yang sama. Grup tersebut bisa digunakan untuk berdiskusi dan mengecek isu yang tengah viral.

    Terakhir, Maman agar masyarakat tidak hanya diam jika mendapati berita fitnah lewat media sosial. Tak tanggung-tanggung Maman menyarankan untuk melaporkan akun provokatif secara massal kepada aparat berwenang. “Mari kita jadikan tahun 2017 sebagai tahun perlawanan orang-orang baik yang tadinya diam. Karena media sosial adalah medan pertempuran dan diam sudah bukan pilihan,” tulis Maman.

    LARISSA HUDA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.