Harga Migas dan Sawit Anjlok, Ekonomi Riau Lesu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perkebunan kelapa sawit dan permukiman terlihat dari udara di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, 29 April 2015. Hasil penelitian terbaru Walhi menunjukkan lahan gambut seluas 914.067 hektare hilang dalam tiga tahun selama kebijakan moratorium kehutanan di Indonesia. ANTARA/FB Anggoro

    Perkebunan kelapa sawit dan permukiman terlihat dari udara di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, 29 April 2015. Hasil penelitian terbaru Walhi menunjukkan lahan gambut seluas 914.067 hektare hilang dalam tiga tahun selama kebijakan moratorium kehutanan di Indonesia. ANTARA/FB Anggoro

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman mengakui terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi Riau di 2016 dibanding tahun-tahun sebelumnya. Lesunya pertumbuhan ekonomi Riau disebutnya, dampak dari anjloknya harga migas dan kelapa sawit di pasaran dunia.

    "Pertumbuhan ekonomi Riau mengalami pelambatan lantaran harga dua sektor unggulan migas danu perkebunan anjlok pada level terendah," kata Arsyadjuliandi Rachman, Minggu, 1 Januari 2017.

    Namun Arsyadjuliandi mengklaim di 2016 ini Riau mampu menekan angka kemiskinan dan pengangguran pasca anjloknya dua sektor unggulan di pasar dunia sejak 2015 alu.

    Menurut Arsyadjuliandi, angka kemiskinan sempat meningkat pada 2015 mencapai 8,82 persen dibanding tahun 2014 hanya 7,99 persen. Begitu juga angka pengangguran di 2015 lalu mencapai 7,83 persen, jauh meningkat dibanding tahun 2014 pada angka 6,55 persen.

    "Penurunan pertumbuhan ekonomi berdampak pada penurunan daya serap tenaga kerja maupun PHK," katanya.

    Namun pada 2016 ini kata dia, angka kemiskinan dan pengangguran kembali dapat ditekan pada angka 7,89 persen menyusul pertumbuhan ekonomi pada 2016 ini jauh lebih baik dari 2015, meskipun tidak lagi didukung sektor migas dan perkebunan.

    Menurut Arsyadjuliandi, Riau mulai mengembangkan destinasi wisata sebagai alternatif pertumbuhan ekonomi saat dua sektor unggulan migas dan perkebunan sudah tak mampu lagi diharapkan. "Tahun ini lebih baik dari tahun lalu, meskipun tidak lagi didukung migas dan perkebunan."

    Aryadjuliandi mengatakan penurunan harga komoditi unggulan seperti karet dan kelapa sawit disebabkan kebijakan perdagangan negara tujuan ekspor yang tidak mendukung. Namun ia mengklaim, pelemahan ekonomi tidak hanya terjadi di Riau, melainkan menyeluruh di Indonesia. "Perlambatan ekonomi ini terjadi secara nasional," kata dia.

    RIYAN NOFITRA

    Baca juga:
    Turis Pertama di Lombok Disambut Kalungan Selendang Sasa
    Bupati Biak Numfor Tersangka Korupsi Tahun Baruan di Lapas


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gerhana Bulan Parsial Umbra Terakhir 2019

    Pada Rabu dini hari, 17 Juli 2019, bakal terjadi gerhana bulan sebagian. Peristiwa itu akan menjadi gerhana umbra jadi yang terakhir di tahun 2019.