Tumpukan Perkara, MA: PN Jakarta Utara Berkinerja Rendah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hakim ketua dan hakim anggota menyidangkan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok  dalam kasus penistaan agama di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, 27 Desember 2016. TEMPO/Eko Siswono Toyudho/Pool

    Hakim ketua dan hakim anggota menyidangkan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dalam kasus penistaan agama di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, 27 Desember 2016. TEMPO/Eko Siswono Toyudho/Pool

    TEMPO.COJakarta - Hasil rekapitulasi data penanganan perkara yang dikeluarkan Mahkamah Agung menunjukkan masih banyak Pengadilan Negeri yang belum berkinerja baik. Dari 352 pengadilan di seluruh Indonesia, hanya ada 64 pengadilan yang mendapat rapor hijau atau hanya 18 persen.

    Rekapitulasi untuk menilai performa pengadilan negeri ini dilakukan menggunakan aplikasi SIPP (Sistem Informasi Penanganan Perkara). Sistem ini menunjukkan pengadilan yang penanganan perkaranya di atas 90 persen akan berwarna hijau. Sedangkan pengadilan yang kinerjanya di bawah 90 persen akan berwarna kuning.

    Pada data rekapitulasi terlihat semua PN besar kelas IA tidak mendapatkan rapor hijau. Di antaranya PN di seluruh Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Semarang, dan Makassar.

    Di Jakarta, skor paling rendah diraih Pengadilan Negeri Jakarta Utara dengan persentase 64,41. Dari 4.352 perkara yang masuk, hanya 2.803 yang diselesaikan. Artinya, PN Jakarta Utara memiliki utang penyelesaian perkara sebanyak 1.549.

    Jumlah perkara yang masuk di Pengadilan Negeri Surabaya sebanyak 11.748 perkara, dengan nilai penyelesaian perkara 67,03 persen. Dari total itu, Pengadilan Negeri Surabaya hanya mampu menyelesaikan 7.875 perkara sepanjang tahun ini. Ada 3.837 kasus yang belum diputus.

    Skor Pengadilan Negeri Bandung lebih baik dari Jakarta dan Surabaya. Dari 2.547 perkara yang masuk, Pengadilan Negeri Bandung mampu menyelesaikan 2.185 perkara. Tersisa 362 perkara yang belum diselesaikan tahun ini. Nilai persentasenya 85,79.

    Kepala Bagian Hukum dan Humas Mahkamah Agung Ridwan Mansyur mengatakan banyaknya pengadilan yang lambat memutus perkara bisa disebabkan pimpinan pengadilan yang kurang kompeten. "Biasanya kurang bisa menggerakkan komponen di bawahnya sehingga kerjanya lambat," katanya saat dihubungi, Sabtu, 31 Desember 2016.

    Menurut Ridwan, untuk meningkatkan kinerja jajaran pejabat pengadilan, Mahkamah Agung akan memberikan reward dan punishment. Penghargaan akan diberikan kepada pengadilan yang berkinerja baik. "Kalau yang lambat biasanya pimpinan didemosi, anggaran diturunkan," ucapnya.

    MAYA AYU PUSPITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.