Sidang Ahok, Ibu-ibu Berseragam Pink Ramaikan Pengadilan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjuk rasa anti-Ahok dalam sidang pengadilan kasus dugaan [penistaan agama di Pengadilan Jakarta Utara, Selasa, 27 Desember 2016. (Tempo/Maria Fransisca)

    Pengunjuk rasa anti-Ahok dalam sidang pengadilan kasus dugaan [penistaan agama di Pengadilan Jakarta Utara, Selasa, 27 Desember 2016. (Tempo/Maria Fransisca)

    TEMPO.CO, Jakarta - Suasana di luar sidang pengadilan kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sedikit berbeda, Selasa, 27 Desember 2016. Jika sebelumnya agak sepi pengunjuk rasa wanita, kali ini sekitar 200 ibu-ibu berpakaian nuansa pink terlihat meramaikan suasana di Jalan Gadjah Mada, Jakarta Pusat.

    Pengunjuk rasa penentang Ahok di depan Pengadilan Jakarta Utara ini berdiri di sekitar mobil komando dengan mengacungkan poster. Beberapa perkumpulan wanita yang datang, salah satunya dari pengajian di daerah Tanah Abang.

    "Kami datang lebih dari seratus orang. Pergi ke sini masing-masing bukan dikumpulkan dengan Metro Mini. Sudah izin suami kok perginya," kata Siti Hatijah.

    Peserta demo lain berasal dari Gerakan Ibu Negeri (GIN). "Insya Allah minggu depan saya datang lagi," kata Sumartini, anggota GIN.

    Mereka tampak memakai hijab berwarna pink, ditambah topi lebar yang dililit pita bertulis Forum Umat Islam (FUI). Perkumpulan wanita lain yang ikut demo adalah Forum Perempuan Bicara. Selain membawa spanduk, mereka membawa tulisan dengan tagar PenjarakanAhok, NKRI Damai Tanpa Penista Agama, serta Penista Agama adalah Sampah Masyarakat dan Musuh Negara.

    Secara keseluruhan pengunjuk rasa anti-Ahok bertambah dibanding sidang pekan lalu. Sekitar 1.000 orang hadir dari berbagai ormas, seperti Laskar Pembela Islam (LPI), Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi), Brigade 411 Jawara Betawi, dan Aliansi Pergerakan Islam.

    Para orator berasal dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Bandung, Maluku Utara, dan Tegal. Wowo dari Jawara Betawi mengatakan, "Kami perkumpulan pesilat Betawi sudah berkumpul sejak pukul 06.00. Di sini membawa rekan sekitar 50 orang. "

    Di depan pengunjuk rasa, polisi memarkir sebuah kendaraan taktis Baracuda dan sebuah water cannon. Posisi kendaraan taktis tersebut membuat pengunjuk rasa tidak langsung menghadap gerbang masuk pengadilan. Posisi pengunjuk rasa membelakangi gerbang.

    Hingga pukul 09.00, masa pro Ahok tidak terlihat. Polisi telah memberi ruang di sisi lain dengan penjagaan dua buah Baracuda dan sebuah water cannon.
     
    MARIA FRANSISCA | Y.Y.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.