Pascabanjir, Bima Diguncang Gempa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana banjir bandang di Bima, Nusa Tenggara Barat, 22 Desember 2016. Tempo/Akhyar M. Nur

    Suasana banjir bandang di Bima, Nusa Tenggara Barat, 22 Desember 2016. Tempo/Akhyar M. Nur

    TEMPO.CO, Jakarta - Gempa mengguncang Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan sekitarnya, Minggu, 25 Desember 2016. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa tektonik bermagnitudo 3,7 skala Richter pada pukul 13.23 WIB. Sumber gempa itu berada di Laut Flores.

    Baca: Seluruh SPBU di Bima Sudah Beroperasi Lagi Setelah Banjir

    Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono lewat keterangan tertulis menjelaskan, episentrum atau sumber gempa terletak pada koordinat 8.28 LS dan 119.04 BT. “Tepatnya di Laut Flores pada jarak 40 kilometer arah timur laut Kota Bima dengan kedalaman 10 kilometer,” ujarnya, Minggu, 25 Desember.

    Guncangan gempa dilaporkan terasa di daerah Bima, Raba, Nanganae, Tololalai, Wara, Toronaru, Nggaronangga, dan Buncu. Skala intensitas gempa II versi BMKG atau III MMI. “Di daerah ini guncangan gempa dirasakan oleh orang banyak,” kata Daryono.

    Baca: Bima Banjir, Putri Sultan Salahuddin Diungsikan ke Hotel

    Ditinjau dari kekuatannya, gempa tersebut termasuk kecil yang tidak berpotensi merusak. Menurut laporan, beberapa warga sempat terkejut dan panik terkait dengan gempa yang terjadi. Apalagi saat ini masih banyak warga Kota Bima di pengungsian akibat banjir.

    Ditinjau dari kedalaman hiposentrumnya, ujar Daryono, gempa tergolong dangkal akibat aktivitas sesar aktif di dasar Laut Flores. Kepada warga Bima dan sekitarnya yang bermukim di pesisir pantai, BMKG meminta agar tetap tenang karena gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

    ANWAR SISWADI | SUPRIYANTHO KHAFID


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.