FPI Sebut Pakai Topi Santa Claus Akidah Bisa Jadi Dangkal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Santa Claus menghibur anak-anak di Mall Alam Sutera, Tangerang, Banten, 23 Desember 2014. Jelang perayaan Natal parade Santa Claus menjadi tontonan yang menarik untuk menghibur pengunjung mall terutama anak-anak. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Santa Claus menghibur anak-anak di Mall Alam Sutera, Tangerang, Banten, 23 Desember 2014. Jelang perayaan Natal parade Santa Claus menjadi tontonan yang menarik untuk menghibur pengunjung mall terutama anak-anak. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Banjarmasin - Anggota Front Pembela Islam (FPI) Kalimantan Selatan melakukan sweeping ke pusat perbelanjaan, supermarket, dan restoran di Kota Banjarmasin. Mereka melucuti karyawan beragama Islam yang menggunakan topi Santa Claus atau atribut Natal lainnya.

    “Itu bisa pendangkalan akidah, dikhawatirkan setelah pakai topi Santa Claus malah ikut-ikut acara mereka (orang Nasrani). Jadi kelakuannya bukan muslim lagi,” kata Sekretaris Jenderal DPD FPI Kalimantan Selatan Aan Kurniawan pada, Sabtu, 24 Desember 2016.

    Baca:
    FPI Kalsel Menggeruduk 15 Toko Retail Modern
    FPI Jawa Tengah Larang Anggotanya Sweeping Atribut Natal

    Pada Kamis, 22 Desember 2016, Aan dan belasan anggota FPI menggeruduk 15 toko retail, restoran, dan supermarket di Kota Banjarmasin. Mereka menyodorkan brosur seruan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 56 Tahun 2016 tentang Hukum Menggunakan Atribut Keagamaan Nonmuslim.

    Aan membantah aksinya mengganggu perayaan Natal. “FPI itu motornya NKRI bersyariah, tidak ada niatan mengacaukan Natal dan tahun baru.”

    Aan Kurniawan menjelaskan pihaknya meminta secara baik-baik kepada tiga orang pelayan restoran Liwi’S Pizza, untuk mencopot topi Santa Claus yang dikenakannya.

    “Saya juga berikan surat imbauan Wali Kota Banjarmasin. Alhamdullilah mereka paham dan mau melepas atribut Natal,” ujarnya.

    Menurut Aan, FPI Kalimantan Selatan tidak melarang orang Nasrani merayakan Natal atau pun memasang atribut Natal di tempat usaha.

    Namun, ia tegas melarang pemilik usaha memaksakan kehendak kepada karyawan muslim untuk memakai properti Natal. Pihaknya terus menggencarkan pengawasan ini hingga perayaan tahun baru.

    Baca:
    'Jangan Paksa Pegawai Pakai Atribut Natal'
    Soal Natal, Pegawai di Grand Indonesia Tak Pakai Atribut

    Ketua MUI dan Kapolri Minta Ormas Hentikan Sweeping

    Seperti dipaparkan situs Whychristmas.com, Santa Claus atau Sinterklas tidak ada dalam ajaran agama Kristen. Dongeng Santa Claus itu terinspirasi dari sosok Uskup St. Nicholas yang pada abad ke-IV Masehi tinggal di Myra, kini bagian dari Provinsi Antalya, Turki.

    St Nicholas yang mewarisi kekayaan orang tuanya, suka memberikan hadiah secara diam-diam kepada warga miskin di tempat tinggalnya. Kisah hidupnya itu menjadi cerita pada setiap menjelang Natal di Eropa.

    St. Nicholas menjadi Bapak Natal dalam budaya Barat dengan sejumlah sebutan, seperti Sinterklaas, Sinterklas, atau Santa Claus. Pada 1823, Henry Livingston Jr. membuat puisi berjudul A Visit from St. Nicholas atau T'was the Night before Christmas yang terinspirasi dari St. Nicholas.

    Dari puisi itu, pada 1863, Thomas Nast membuat ilustrasi Sinterklas. Puisi dan ilustrasi membuat legenda Sinterklas menyebar ke seluruh dunia. Termasuk kisahnya naik kereta rusa melintasi Kutub Utara dan terbang di malam Natal untuk memberi kado.

    Namun perusahaan raksasa Coca Cola yang berperan besar menyebarkan propaganda tentang Sinterklas melalui iklan-iklannya pada dasawarsa 1920-an. Produsen minuman bersoda dari Amerika Serikat itu memasang iklan besar-besaran, menggabungkan Sinterklas, Coca Cola, dan perayaan Natal.

    Baca:
    Gempita Sambut Tahun 2012
    Aneka Sensasi Cokelat Natal
    Hadiri Acara Natal Tak Kudu Berbusana Seksi

    Setelah itu, banyak perusahaan besar dan kecil mengeluarkan produknya yang dikaitkan dengan Santa Claus, pada setiap menjelang Natal. Bagi pengusaha, Sinterklas menjadi ladang bisnis yang menguntungkan.

    "Topi Santa saat ini tak lebih dari aksesori komodifikasi kapitalisme. Munculnya hanya saat Natal, karena itu strategi dagang kaum kapitalis," ujar Ketua Cabang Istimewa NU Amerika Serikat, Akhmad Sahal, dalam cuitannya pada Kamis, 15 Desember 2016.

    DIANANTA P. SUMEDI | WHYCHRISTMAS.COM | UWD


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.