Bidan Calon Pengusaha

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siti Retranik, pemilik Bengkel Kriya Daun, menunjukkan produk kerajinan berbahan daun kering. TEMPO/M Syaraffah

    Siti Retranik, pemilik Bengkel Kriya Daun, menunjukkan produk kerajinan berbahan daun kering. TEMPO/M Syaraffah

    TEMPO.CO, Surabaya--Suasana akrab menyelimuti obrolan belasan ibu-ibu di Kafe Merah, Jalan Ngagel Jaya Barat, Surabaya, tiga pekan lalu. Mereka asyik berkonsultasi bisnis kepada seorang perempuan paruh baya, Siti Retranik. Nanik, demikian ia disapa, ibarat oase bagi perempuan pelaku usaha di Surabaya. Nyaris saban hari perempuan pelaku usaha menimba ilmu berbisnis darinya.

     

    Memainkan peran sebagai perempuan pemberdaya seolah menjadi keharusan bagi Nanik. Peran itu kerap ia lakoni tak lama setelah menyandang predikat sebagai Pahlawan Ekonomi Surabaya pada 2010. Sejak itu, Nanik kerap diundang menjadi mentor pelatihan wirausaha. Semua itu ia jalani disela-sela kesibukannya mengembangkan bisnis kerajinan tangan berbahan daun.

     

    Rumah kediaman Nanik di Jalan Ngagel Mulyo Surabaya pun tak pernah sepi dari kunjungan. Para perempuan pebisnis umumnya berkonsultasi ihwal kreatifitas mengembangkan usaha hingga inovasi pemasaran. Sebagian di antaranya bahkan berkeinginan belajar memasarkan produk yang bisa menembus pasar global. “Banyak ibu-ibu pelaku usaha berkonsultasi ke sini,” ujar Nanik.

     

    Tugas itu diakui Nanik tak selalu mudah ia jalani. Umumnya, kata dia, banyak perempuan yang khawatir merintis bisnis, entah karena takut tak laku atau takut pesaing. Berhadapan dengan tipe orang seperti itu biasanya Nanik menyarankan mereka menjajal pasar dengan menciptakan satu produk yang paling kreatif. “Jika responnya bagus, maka saya sarankan untuk memproduksi banyak,” katanya.

     

    Tak jarang Nanik berhadapan dengan problem personal seperti dukungan keluarga. Suatu waktu pernah datang seorang perempuan muda lulusan perguruan tinggi yang berniat memulai usaha. Hanya saja perempuan itu merasa sungkan. Memilih profesi itu bakal berbuah cemooh orang tuanya yang lebih suka melihatnya bekerja kantoran. “Kalau begitu orang tuanya harus disadarkan juga,” katanya.

     

    Yang bikin Nanik pusing adalah tabiat ibu-ibu yang mudah putus asa dan tak fokus dalam berusaha. Banyak di antara mereka yang latah beralih menciptakan produk orang lain yang sedang laris di pasaran. Menurut dia, kebiasaan itu tak akan membuat pelaku usaha sukses. Padahal, kata dia, masalah yang mereka hadapi adakalanya hanya persoalan kreatifitas dan promosi.

     

    Kemampuan Nanik mengampu para calon pengusaha tak lepas dari pengalamannya merintis bisnis kerajinan tangan sejak 20 tahun lalu. Bisnis yang dirintis bersama suaminya itu berawal dari ketakjubannya menyaksikan kreatifitas produk-produk berbahan kulit jagung dalam sebuah ajang pameran. Dari sanalah muncul ide membuat kerajinan dari daun kering.

     

    Pulang dari pameran tersebut, Nanik dan suaminya mulai berkesperimen. Langkah awal yang mereka lakukan adalah membuat ramuan pengawet untuk dedaunan. Hampir setahun, sejumlah racikan bahan mereka coba. Tapi tak semuanya berjalan mulus. Eksperimen itu bahkan sempat membuat ledakan kecil dan nyaris membakar rumahnya. Maklum, keduanya tak memiliki latar belakang pengetahuan kimia.

     

    Ketelatenan Nanik berbuah manis setelah menemukan ramuan pengawet daun yang tepat. Dengan teknik itu, ia mencoba kreatifitas membuat kartu ucapan berbahan daun kering. Kreatifitas mengolah dedaunan juga ia terapkan untuk membuat produk-porduk lain seperti celengan, tempat tisu, bingkai, kipas hingga tempat penyimpanan abu jenazah. Tak dinanya, respon pasar cukup tinggi.

     

    Kerajinan tangan yang diberi nama Bengkel Kriya Daun itu kini mampu menggandeng 32 karyawan. Seluruhnya merupakan ibu-ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar rumahnya. Bisnis Nanik sempat mengalami penurunan omset ketika suaminya meninggal pada 2005. Namun kondisi itu tak berlangsung lama. Bisnis yang dirintis Nanik mampu bangkit kembali dengan dukungan tiga anaknya.

     

    Kunci sukses bisnis Nanik ikut ditentukan oleh kemampuannya beradaptasi dengan teknologi informasi. Sejak 2008, produk-produk kerajinan Nanik mulai dipasarkan lewat internet www.bengkelkriyadaun.com. Itu lah sebabnya pahlawan ekonomi Pemkot Surabaya itu memiliki jargon Go Global, Go Digital, dan Go Financial.

     

    Jejak keberhasilan Nanik kini banyak ia tularkan kepada para perempuan di Kota Surabaya. Salah soerang anak didik Nanik, Ari Bintarti mengaku senang dan bangga bisa mengenal sosok Nanik. Pemilik Batik Alsier ini mengaku banyak mendapatkan ide-ide kreatif dan inovatif setelah berkonsultasi dengan Nanik. “Dia sangat sabar dan telaten mendampingi kami,” kata dia.

     

    Bisnis yang dirintis Ari bahkan mulai dikenal hingga mancanegara seperti Singapura. Keberhasilan itu juga membuahkan penghargaan dari pemerintah Surabaya mengikuti jejak Nanik. Bisnis batik yang dikelola Ari tahun ini didaulat sebagai UKM Top Of The Top kategori Creative Industry (CI) di Pahlawan Ekonomi tahun 2016 dari Pemerintah Surabaya.

     

    Menurut Nanik, kunci sukses seorang pengusaha terletak pada cara pandang. Seseorang yang ingin memulai bisnis harus menanamkan keyakinan pad adiri mereka bahwa mereka mampu menjadi bos, minimal untuk diri mereka sendiri. “Saya senang sekarang perempuan binaan saya banyak yang pendapatannya lebih dibanding saya,” tutur Nanik.

     

    MOHAMMAD SYARRAFAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.