Kapolri: Tirulah Militansi dan Semangat Mathilda Batlayeri

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberikan pernyataan setelah acara Nusantara Bersatu di Monumen Nasional, Jakarta, 30 Novemver 2016. Tempo/Arkhelaus W.

    Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberikan pernyataan setelah acara Nusantara Bersatu di Monumen Nasional, Jakarta, 30 Novemver 2016. Tempo/Arkhelaus W.

    TEMPO.CO, Tanah Laut- Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian meresmikan renovasi monumen pejuang Ibu Bhayangkari Mathilda Batlayeri di Desa Kurau, Kecamatan Kurau, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Jenderal Tito mengatakan, monumen itu menggambarkan contoh dedikasi dan pengorbanan dari sosok Ibu Bhayangkari yang berjuang mempertahankan markas polisi sekaligus membela keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    “Ini contoh luar biasa bagaimana militansinya dan gigihnya pengorbanan seorang istri polisi yang rela mengorbankan nyawa bersama suami dan anak-anaknya dari seranganan gerakan pengacau keamanan,” kata  Tito usai meresmikan monumen Mathilda Batlayeri, Jumat, 23 Desember 2016.

    Melalui monumen itu, Tito meminta para ibu Bhayangkari masa kini bisa mengambil hikmah dari semangat militansi seorang Mathilda yang gugur saat peristiwa pemberontakan di Kecamatan Kurau pada 28 September 1953. Meskipun lokasi monumen jauh dari Kota Banjarmasin dan Jakarta sekalipun, Tito menganggap monumen Mathilda Batlayeri sangat strategis karena menginspirasi semangat juang ibu-ibu.

    “Bertepatan dengan Hari Ibu, saya harap bisa menginspirasi ibu-ibu lain untuk berjuang sampai titik darah penghabisan dalam rangka membantu keluarga, suami, bangsa, dan negara, bahkan untuk masyarkat lokal dan internasional,” ujar Tito.

    Tanpa semangat tinggi dan militansi membela negara, kata Tito, bangsa Indonesia mudah dipengaruhi oleh bangsa-bangsa lain. “Kalau loyo-loyo mudah dipengaruhi orang lain. Dengan militansi bisa mengalahkan penjajah. Misalnya semangat arek-arek Suroboyo hanya berbekal bambu runcing bisa mengalahkan penjajah,” katanya.

    Tito bertekad memperjuangkan sosok Mathilda Batlayeri sebagai pahlawan nasional. Dia berharap, pemerintah merespons positif atas usulan tersebut. “Kami perjuangkan untuk mendapat gelar pahlawan nasional,” tuturnya.

    Ketua Umum Bhayangkari Tri Suswati juga meminta ibu-ibu Bhayangkari mencontoh militansi seorang Mathilda Batlayeri. Dia mendukung  usulan pemberian gelar pahlawan nasional kepada Mathilda Batlayeri.

    Mathilda Batlayeri merupakan wanita asal Tanimbar, Maluku, yang gugur dalam pertempuran melawan para pemberontak pimpinan Ibnu Hajar yang menyerang asrama Kepolisisan Kurau, Kalimantan Selatan. Mathilda Batlayeri, suaminya yang seorang polisi bernama Adrianus Batlayeri, dan ketiga anaknya meninggal ketika terjadi penyerangan itu. Tiga anaknya bernama Alek, 9 tahun, Lodewik (6), dan Max (2,5).

    Selain keluarga Adrianus Batlayeri, puluhan keluarga anggota polisi gugur di Kurau. “Kejadiannya Senin subuh sekitar jam empat. Saat itu memang ada perang di sini,” ujar seorang saksi hidup atas penyerangan itu, Amsi, 76 tahun.

    Untuk menghormati jasa-jasanya, polisi membangun Monumen Bhayangkari teladan Mathilda Batlayeri di Kurau Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimatan Selatan pada 13 Agustus 1983. Di bagian muka monumen, tertulis pesan moral berbunyi, “Kepada penerusku, aku Bhayangkari dan anak-anakku terkapar di sini, di bumi Kurau yang sunyi, semoga pahatan pengabdianku memberi arti pada ibu pertiwi.”

    DIANANTA P. SUMEDI


     

     

    Lihat Juga