AJI: Kekerasan terhadap Jurnalis pada 2016 Melonjak Tajam  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan Jurnalis Malang Raya dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Pewarta Foto Indonesia (PFI) dan Perhimpunan Pers Mahasiswa Malang menggelar aksi unjuk rasa memperingati Hari Kebebasan Pers Dunia di alun-alun tugu Malang, Jawa Timur, 3 Mei 2016. Dalam aksi tersebut mereka juga mengimbau kepada jurnalis untuk bekerja secara profesional dan mematuhi Kode Etik dalam menjalankan kerja jurnalistik. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Puluhan Jurnalis Malang Raya dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Pewarta Foto Indonesia (PFI) dan Perhimpunan Pers Mahasiswa Malang menggelar aksi unjuk rasa memperingati Hari Kebebasan Pers Dunia di alun-alun tugu Malang, Jawa Timur, 3 Mei 2016. Dalam aksi tersebut mereka juga mengimbau kepada jurnalis untuk bekerja secara profesional dan mematuhi Kode Etik dalam menjalankan kerja jurnalistik. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat, sepanjang 2016, kasus kekerasan terhadap jurnalis meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya, yakni mencapai 78 kasus. Jumlah tersebut melonjak dua kali lipat dibanding dua tahun terakhir yang rata-rata hanya 40 kasus.

    "Ini kasus kekerasan terbesar dalam sepuluh tahun terakhir," ujar Ketua AJI Suwarjono dalam konferensi pers di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat, 23 Desember 2016.

    Kasus kekerasan yang dialami jurnalis, ucap Suwarjono, meliputi fisik, teror, intimidasi lisan, pengusiran, pelarangan liputan, perusakan alat liputan, dan pembunuhan.

    Baca juga:
    Dewan Pers Minta Polisi Tuntaskan Kasus Pembunuhan Jurnalis
    AJI Indonesia dan IFJ Bekali Jurnalis Pelatihan Keselamatan


    Dari 78 kasus yang terjadi, tutur Suwarjono, tidak ada satu pun yang diproses hukum. Suwarjono melihat ada semacam pembiaran terhadap kasus-kasus tersebut, sehingga kekerasan yang menimpa jurnalis terus terjadi berulang kali. "Kalau dibiarkan, orang lain akan melakukan hal sama karena mereka yakin tidak akan diproses hukum," katanya.

    Dalam beberapa kasus yang ditangani AJI, ucap dia, terdapat upaya mediasi atau lobi-lobi antara pelaku dan pihak perusahaan media untuk menyelesaikan kasus secara kekeluargaan. AJI menilai penyelesaian secara kekeluargaan justru membuat para pelaku kekerasan menjadi kebal hukum. "Itu membuat kekerasan terus berlanjut," ujarnya.

    Berdasarkan catatan AJI, kekerasan yang dialami jurnalis paling banyak dilakukan masyarakat, yakni 26 kasus, diikuti oleh polisi sebanyak 13 kasus. Menurut Suwarjono, tingginya kekerasan oleh masyarakat karena kurangnya literasi tentang mekanisme penyelesaian bila mereka merasa dirugikan sebuah pemberitaan. Mekanisme melakukan pembelaan, seperti hak jawab dan hak verifikasi, belum banyak diketahui masyarakat.

    DENIS RIANTIZA | KUKUH

    Baca pula:
    Soal Harga BBM, Politisi Demokrat: Tak Perlu Menyindir SBY
    Sidang Ahok Pindah ke Ragunan, Kapolda Sudah Evaluasi Lokasi



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.