Pesantren Tebuireng Terapkan Sanksi Ini untuk Santri Perokok  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kampanye anti rokok. Bhaskar Mallick/Pacific Press/LightRocket via Getty Images

    Ilustrasi kampanye anti rokok. Bhaskar Mallick/Pacific Press/LightRocket via Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta – Pengasuh Pesantren Tebu Ireng, Salahuddin Wahid atau Gus Sholah, mengatakan sudah sekitar 20 tahun pondok pesantren yang ia bina menerapkan larangan merokok di dalam lingkungan pesantren bagi santri, guru, dan ustad.

    Larangan itu semakin diperketat saat tiga tahun lalu beberapa kiai yang masih merokok di rumah mereka terserang kanker paru-paru dan meninggal. Untuk mengefektifkan larangan merokok itu, Pesantren Tebuireng memberi sanksi yang tidak terlalu berat bagi santri perokok.

    ”Tapi hukumannya bersifat mendidik, seperti membersihkan toilet, dapur, ruang makan, dan lain-lain,” kata Gus Sholah saat memberikan paparan dalam Workshop Harga Rokok, Dilema Pembangunan, dan Kualitas Hidup, di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa, 20 Desember 2016.

    Di samping itu, Pesantren Tebuireng mengadakan dua kali survei, yakni pada 5 Maret 2015 dan 11 Desember 2016, tentang merokok dan perilaku santri merokok di rumah atau sembunyi-sembunyi di pesantren. “Hasilnya membuat kami harus memberi sanksi yang lebih berat dan meningkatkan promosi atau kampanye bahaya dan larangan merokok,” ujarnya.

    Survei yang digelar pada 11 Desember lalu di Pesantren Tebuireng mengambil sampel dari 2.075 santri laki-laki. Dari sisi setuju atau tidaknya merokok, sebanyak 27 persen atau 552 santri menyatakan setuju, dan 73 persen atau 1.523 santri menyatakan tidak setuju. Dari sisi tahu bahaya merokok, ada 1.985 santri atau 96 persen, dan sisanya 90 orang atau 4 persen tidak tahu bahaya merokok. Yang masih merokok secara sembunyi-sembunyi ada 725 orang atau 35 persen, sedangkan yang tidak merokok di rumah ada 1.350 atau 65 persen.

    ”Dari survei itu, kami mengambil kesimpulan bahwa kami belum berhasil menumbuhkan kesadaran diri santri untuk tidak merokok,” tutur Gus Sholah.

    Untuk itu, dalam meningkatkan kesadaran santrinya, Gus Sholah meningkatkan sosialisasi dan kampanye untuk tidak merokok dan memberi informasi yang tepat mengenai bahaya merokok agar larangan itu berlaku efektif di sekitar pesantren. “Mungkin kami harus membentuk relawan di kalangan santri untuk ikut kampanye antirokok,” ucapnya.

    DESTRIANITA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ini Keunggulan Bahan Bakar Campuran Biodiesel B30 Saat Uji Coba

    Biodiesel B30 akan diluncurkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi pada Desember 2019. Ini hasil B30 yang berbahan solar campur minyak kelapa sawit.