Survei Ini yang Membuat Presiden Pertahankan Ujian Nasional  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang siswa tuna rungu menjawab soal Ujian Nasional tingkat sekolah dasar (SD) di Sekolah Luar Biasa Negeri Pembina Sulsel, Makassar, 16 Mei 2016. TEMPO/Fahmi Ali

    Seorang siswa tuna rungu menjawab soal Ujian Nasional tingkat sekolah dasar (SD) di Sekolah Luar Biasa Negeri Pembina Sulsel, Makassar, 16 Mei 2016. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan ada alasan lain kenapa Presiden Joko Widodo memutuskan mempertahankan Ujian Nasional (UN) di Indonesia.

    Alasan itu adalah untuk mempertahankan hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA). PISA merupakan survei internasional tentang prestasi literasi membaca, matematika, dan sains siswa berusia 15 tahun. Survei tiga tahunan ini diselenggarakan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dan konsorsium internasional yang membidangi masalah sampling, instrumen, data, dan pelaporan.

    "Pertimbangannya, survei PISA menunjukkan sistem pendidikan kita sudah di jalur yang benar untuk perbaikan, dan terus menanjak dari tahun 2003 ke 2016," ujar Pramono saat ditemui di Istana Kepresidenan, Senin, 19 Desember 2016.

    Pramono menambahkan, survei PISA pun menunjukkan perbaikan dalam hal prestasi pendidikan, yakni pendidikan sains, membaca, dan matematika saat UN diberlakukan.

    Apabila hal itu dipertahankan, pada 2030 Indonesia dapat setara dengan negara Organization for Economic Cooperation and Development (OECD).

    Presiden Jokowi, kata Pramono, tidak ingin peringkat Indonesia di PISA turun karena perubahan-perubahan yang sesungguhnya tidak diperlukan. Karena itu, diputuskan UN tetap dipertahankan dengan diikuti sejumlah perbaikan, dari mulai kualitas guru hingga soal.

    "Harapannya, Indonesia akan menjadi bagian dari negara-negara yang sudah mempunyai pendidikan terbaik di dunia," ujar Pramono.

    Berdasarkan hasil survei PISA 2015, Indonesia berada di peringkat 62 yang merupakan peningkatan dari peringkat sebelumnya, yakni 71. Pada 2009, Indonesia sempat menempati peringkat 57.

    ISTMAN MP

    Baca juga:
    Ada Pesan Khusus pada Pecahan Rupiah Baru
    Jokowi Perintahkan Polisi Tindak Tegas Ormas Pelaku Sweeping
    Massa Berjubah Sweeping Restoran di Solo, Polda Bergerak


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.