Menteri Nasir: Jumlah Jurnal Ilmiah Internasional Kita Meningkat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohammad Nasir. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohammad Nasir. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengatakan jumlah publikasi ilmiah internasional semakin meningkat seusai perubahan sejumlah regulasi terkait dengan penelitian.

    "Angka publikasi ilmiah internasional kita yang terindeks Scopus pada 2015 hanya 5.000-an. Namun, per 5 Desember 2016, jumlahnya meningkat menjadi 9.012 jurnal," ujar Menteri Nasir saat memberi sambutan pada acara Visiting World Class Professor di Jakarta, Senin, 19 Desember 2016. Scopus adalah pusat data (database) literatur ilmiah terbesar di dunia yang dimiliki Elsevier, salah satu penerbit utama dunia.

    Lompatan besar tersebut karena beberapa regulasi yang diubah, seperti Peraturan Menteri Keuangan mengenai anggaran riset berbasis output (ARBO) dan tidak lagi berbasis pada perjalanan dinas.

    Perubahan peraturan tersebut dinilai mampu meningkatkan jumlah penelitian karena peneliti tidak lagi direpotkan dengan pertanggungjawaban penelitian berdasarkan perjalanan dinas, melainkan hanya berdasarkan hasil penelitian.

    Selain itu, Kementerian Riset bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bekerja sama memberikan penghargaan kepada peneliti yang berhasil menembus jurnal internasional.

    "Jurnal kita yang terakreditasi sudah mendekati Thailand. Sedangkan Singapura dan Malaysia justru mengalami penurunan." Selain itu, pada 2017, Kementerian akan mewajibkan para guru besar melakukan publikasi internasional.

    "Kami akan pantau terus. Saat ini terdapat 5.800 guru besar di Indonesia dan lektor kepala mencapai 31 ribu," tutur mantan rektor Universitas Diponegoro itu.

    Nasir juga meminta penelitian tidak hanya sebatas pada publikasi ilmiah, tapi juga bisa dijadikan prototipe dan bisa menjadi inovasi.

    Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Pendidikan Tinggi Ali Ghufron Mukti mengatakan Kementerian mengundang 45 profesor diaspora. Mereka merupakan orang Indonesia yang menjadi profesor di sejumlah universitas ternama di dunia.

    Para akademikus tersebut berasal dari berbagai bidang, mulai teknik, farmasi, politik, kajian Islam, hingga studi perkotaan. Mereka akan memberikan kuliah umum di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. "Mereka akan membantu dalam meningkatkan kompetensi dosen, mahasiswa, dan perguruan tinggi," ujar Ghufron.

    Para profesor diaspora tersebut, ucap Ghufron, akan membantu perguruan tinggi dalam beberapa hal, yakni analisis data, pembagian sumber daya, analisis jurnal, dan penyusunan proposal dana internasional.

    ANTARA

    Baca juga:
    Ahok: Pakai Kacamata Kuda, Djarot: Jangan Nunggu Lebaran Kuda
    Geledah Polisi Harus Izin Kapolri Dinilai Melanggar Hukum



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.