Dua WNI yang Dibebaskan Abu Sayyaf Tiba di Soekarno-Hatta  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Elona, istri Robin Piter, salah satu ABK Charles yang disandera Abu Sayyaf hanya bisa menunggu kedatangan suaminya di depan pintu rumah. Rumahnya saat ini dijadikan posko bersama keluarga ABK korban penyanderaan. TEMPO/Firman Hidayat.

    Elona, istri Robin Piter, salah satu ABK Charles yang disandera Abu Sayyaf hanya bisa menunggu kedatangan suaminya di depan pintu rumah. Rumahnya saat ini dijadikan posko bersama keluarga ABK korban penyanderaan. TEMPO/Firman Hidayat.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Keimigrasian Heru Santoso mengatakan dua WNI korban penyanderaan kelompok militan Abu Sayyaf telah tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Kamis, 15 Desember 2016, sekitar pukul 23.20 WIB. "Mereka adalah Muhammad Nasir dan Robin Piter," ucap Heru berdasarkan keterangan tertulisnya, Jumat, 16 Desember 2016.

    Heru berujar, kedatangan mereka dikawal langsung oleh Berlian Napitupulu, Consul General of the Republik of Indonesia in Davao City, Filipina, dan seorang anggota staf Konsulat Jenderal RI di Davao. "Rombongan mendarat dengan pesawat Singapore Airlines SQ968," tuturnya.

    Baca juga: Indonesia Nyaris Juara AFF, Mirip Portugal atau Leicester?

    Setelah dilakukan proses keimigrasian, kata Heru, kedua korban dijemput petugas Kementerian Luar Negeri, Badan Intelijen Strategis, Interpol, dan Kepolisian RI.

    Sebelumnya, pemerintah membebaskan dua warga Indonesia anak buah kapal TB Charles dari kelompok Abu Sayyaf di Filipina pada Senin lalu. Dua ABK itu adalah Robin Piter asal Samarinda dan Muhammad Nasir dari Sulawesi Selatan.

    Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi menuturkan pembebasan ini adalah hasil diplomasi total yang melibatkan berbagai elemen pemerintahan selama enam bulan terakhir.

    INGE KLARA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.