Jelang Akhir Tahun, Polisi Maksimal Antisipasi Terorisme  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar (tengah) memberikan keterangan pers di Mabes Polri, Jakarta, 3 Desember 2016. Meski sudah ditetapkan dan diperiksa 1x24 jam, Polisi tidak melakukan penahanan atas dasar penilaian subjektif kepolisian. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar (tengah) memberikan keterangan pers di Mabes Polri, Jakarta, 3 Desember 2016. Meski sudah ditetapkan dan diperiksa 1x24 jam, Polisi tidak melakukan penahanan atas dasar penilaian subjektif kepolisian. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, mengatakan pihaknya menduga 11 Desember adalah instruksi besar-besaran kepada seluruh anggota ISIS di sejumlah negara, seperti di Turki dan Mesir. "Kami bersyukur upaya aksi 11 Desember bisa digagalkan. Jadi berkat mempelajari informasi itu," ujar Boy di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, Selasa, 13 Desember 2016.

    Dia mengatakan, polisi akan terus mencermati fenomena aksi teror. "Kami melakukan hal intensif menjelang Natal dan tahun baru, Kami lakukan upaya antisipasi, kami maksimal, " kata Boy.

    Dia menjelaskan instruksi yang disebut "amaliyah" itu sengaja dihembuskan dari pusat ISIS dan ditindaklanjuti oleh jaringan mereka. Menjelang akhir tahun ini polisi mengungkap berbagai rencana teror. Salah satunya, penemuan bom di Bekasi pada Sabtu, 10 Desember 2016. 

    Kepala Kepolisian Resor Metro Bekasi Kota Komisaris Besar Umar Surya Fana mengungkapkan temuan bom berdaya ledak tinggi di Bintarajaya, Bekasi Barat, Kota Bekasi, Sabtu, 10 Desember 2016 itu terkait dengan aksi teror bom secara serentak di enam negara.

    "Alhamdulillah, bom di Bintarajaya, Kota Bekasi, menjadi satu-satunya yang berhasil diantisipasi oleh Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri," kata Umar di Bekasi, Selasa, 13 Desember 2016.

    Menurut dia, bom yang temukan pihaknya di sebuah kos-kosan Jalan Bintarajaya 8, Bekasi Barat, merupakan bagian dari jaringan terorisme internasional yang berencana meledakannya secara serentak pada Minggu, 12 Desember 2016 di enam negara, di antaranya Mesir, Turki, Suriah, dan Yaman.

    "Berdasarkan informasi yang kami dapat, bom di negara tersebut meledak pada hari yang sama. Kita gagalkan di Kota Bekasi karena Densus sudah mensinyalir adanya rencana itu," katanya.

    Dikatakan Umar, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian sudah mensinyalir bahwa jaringan teroris Bahrun Naim akan melakukan kegiatan di Indonesia. Dari informasi tersebut, pihaknya melakukan pengintaian terhadap jaringan teroris di Kota Bekasi dan berhasil menangkap tiga tersangka yakni Nur Solihin, Agus Supriyadi, dan Dian Yulia Novi.

    Umar mengimbau masyarakat untuk lebih perhatian terhadap lingkungan sekitar agar kegiatan terorisme bisa diantisipasi secara dini.

    "Kami imbau masyarakat di manapun juga di Bekasi Kota untuk lebih empati dan melihat situasi. Infokan pada polisi melalui jajaran kami sampai ke Babinkamtibmas bila ada hal mencurigakan," katanya.

    REZKI ALVIONITASARI | ANTARA

    Baca juga:
    Bom Bekasi, Calon 'Pengantin' Wanita Diduga Tidak Hanya Satu 
    Penyandera WNI di Sabah Minta Tebusan Rp 6 Miliar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Memberangkatkan 529 Kloter pada Musim Haji 2019

    Pada musim haji 2019, Indonesia memberangkatkan 529 kelompok terbang, populer disebut kloter, yang akan dibagi dalam dua gelombang.