Gempa Pidie, Tim Psikosial Dampingi Korban Paling Rentan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga mengungsi di halaman Masjid At-Taqwa, Pidie Jaya, Aceh, 8 Desember 2016.  Warga yang tempat tinggalnya mengalami kerusakan akibat gempa berkekuatan 6,5 SR pada 7 Desember 2016 mengungsi ke tempat-tempat yang dianggap aman. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    Sejumlah warga mengungsi di halaman Masjid At-Taqwa, Pidie Jaya, Aceh, 8 Desember 2016. Warga yang tempat tinggalnya mengalami kerusakan akibat gempa berkekuatan 6,5 SR pada 7 Desember 2016 mengungsi ke tempat-tempat yang dianggap aman. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Sosial melakukan pengkajian cepat atau rapid assesment korban gempa bumi Aceh di sejumlah kabupaten. “Hasil kaji cepat ini nantinya akan menjadi dasar pemberian layanan kepada pengungsi terutama berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar,” kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa secara tertulis pada Minggu, 11 Desember 2016.

    Khofifah menjelaskan pihaknya membentuk tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) di lokasi pengungsian Kabupaten Pidie Jaya. Dia menempatkan 25 orang di Meunasah Jurong, Meunasah Balek, Meuraksa Barat, dan daerah Paru Keude. Mereka bertugas mengumpulkan data termasuk jumlah korban sebagai bahan acuan tindakan pemerintah nantinya.

    Saat ini ada 25 orang tim Layanan Dukungan Psikososial. Sebelum melaksanakan tugas, kata Khofifah, mereka harus melakukan assement terlebih dahulu.

    “Untuk sementara ini tim fokus di 4 titik pengungsian yang jumlahnya cukup besar. Assesment utamanya dilakukan pada kelompok rentan yakni lansia, disabilitas, ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, dan warga yg ditinggalkan anggota keluarganya.”

    Rapid assement biasanya dilakukan dalam rentang waktu hari pertama bencana hingga hari keempat kejadian bencana. Ini sebagai data awal yang menjadi dasar untuk menyusun program layanan dukungan psikososial selanjutnya.

    Koordinator Tim Layanan Dukungan Psikososial Kemensos, Milly Mildawati mengungkapkan hasil kaji cepat membeberkan pengungsi rata-rata masih berduka kehilangan keluarga.

    Mereka juga ketakutan berada di dalam ruangan dan lebih memilih berada di luar rumah. Kemudian memilih beraktivitas dan tidur di tenda-tenda.

    Sementara bagi korban yang tinggal di pesisir pantai takut dengan datangnya tsunami. Mengingat gempa di sana terjadi hampir setiap saat. Dia juga mendapati anak-anak masih mengalami rasa takut, terlebih saat terjadi gempa susulan. Mereka umumnya menunjukkan reaksi tubuh gemetar hebat, panik, saling berpelukan dan menjerit karena takut.

    Saat ini jumlah pengungsi di Meunasah Juroeng mencapai 1.300 jiwa, kemudian di Meunasah Balek 1.666 orang, Paru Keude sebanyak 2.100 jiwa, dan Meuraksa sebanyak 1.535 orang.

    "Ada juga pengungsi disabilitas seperti mengalami gangguan berjalan, kami gali kebutuhannya, dan mereka memerlukan alat bantu berjalan (tongkat) atau kursi roda," kata Milly.

    AVIT HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.