Pembubaran KKR, Azyumardi: Tahan Diri dan Jaga Toleransi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perwakilan panitia menyanggupi pembatalan acara kebaktian Natal di Sabuga setelah di demo para pengunjuk rasa, di Bandung, 6 Desember 2016. Acara ini dianggap tidak berizin dan melanggar aturan oleh pihak pengunjuk rasa. TEMPO/Prima Mulia

    Perwakilan panitia menyanggupi pembatalan acara kebaktian Natal di Sabuga setelah di demo para pengunjuk rasa, di Bandung, 6 Desember 2016. Acara ini dianggap tidak berizin dan melanggar aturan oleh pihak pengunjuk rasa. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra, meminta masyarakat menahan diri dan menjaga toleransi antarumat beragama agar kejadian pembubaran acara kebaktian seperti di Gedung Sabuga ITB, Bandung, Selasa, 6 Desember 2016, tidak terjadi lagi.

    Pembubaran acara kebaktian kebangunan rohani (KKR) yang digelar di Gedung Sabuga, Jalan Tamansari Kota Bandung, dengan menghadirkan Pendeta Stephen Tong, seharusnya tidak perlu terjadi, ujar Azyumardi Azra kepada wartawan di Bali, Rabu, 6 Desember 2016.

    BACA: Ormas PAS dan DDI Paksa Bubarkan Kebaktian KKR

    Azyumardi mengatakan para penganut agama harus mempunyai rasa tenggang rasa dan jangan terlalu bersemangat dalam menampilkan agama mereka masing-masing.

    "Saya melihat sering kali ada tensi ketegangan, konflik antarumat beragama, karena kurangnya sensitivitas kedua belah pihak. Harus sama-sama sensitif, tenggang rasa, dan menahan diri. Kejadian di Sabuga dikhawatirkan akan menjadi pemberitaan yang merusak citra Indonesia di mata internasional," ujar dia.

    Ia mengatakan setiap orang beragama harus yakin kepada agamanya masing-masing, tapi tidak harus diungkapkan secara mencolok.

    "Besar-besaran, kemudian mengundang reaksi. Kalau mau mengimbau, kita masing-masing harus bersikap sensitif, timbal balik, baik yang menyelenggarakan acara agamanya maupun lingkungan masyarakatnya harus sama-sama menjaga. Kalau tidak sensitif, akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ujar dia.

    Kelompok yang menamakan dirinya Pembela Ahlus Sunnah (PAS) memaksa panitia mengakhiri acara dengan alasan kegiatan kebaktian harus digelar di gereja, bukan di gedung umum.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.