Angin Kencang Melanda Indonesia, Begini Penjelasan BMKG  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hujan deras dan angin kencang merobohkan papan penunjuk bandara Terminal 2 Soekarno-Hatta siang ini, Sabtu, 3 Desember 2016. Kejadian ini menimbulkan kemacetan lalu lintas yang cukup panjang. ISTIMEWA

    Hujan deras dan angin kencang merobohkan papan penunjuk bandara Terminal 2 Soekarno-Hatta siang ini, Sabtu, 3 Desember 2016. Kejadian ini menimbulkan kemacetan lalu lintas yang cukup panjang. ISTIMEWA

    TEMPO.COJakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membeberkan sejumlah penyebab angin kencang yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Jakarta. 

    “Saat ini terjadi sirkulasi pusaran angin (pusat tekanan rendah) di perairan utara Aceh dan Samudra Hindia di sisi selatan Bali,” kata Kepala Bagian Humas BMKG Hary Tirto Djatmiko secara tertulis pada Senin, 5 Desember 2016.

    Hary menjelaskan, di wilayah perairan Sulawesi Utara bagian utara dan perairan utara Papua Barat terjadi sirkulasi angin tertutup. Kata dia, hal ini mempengaruhi pola cuaca di wilayah Indonesia. Sehingga terbentuk daerah belokan, pelambatan, dan pertemuan (konvergensi) angin di sejumlah wilayah.

    Beberapa wilayah itu adalah Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Gorontalo, Sulawesi, Papua Barat, serta Papua bagian tengah dan selatan. 

    “Ada aliran dorongan massa udara dingin dan kering dari Asia Tengah yang terpantau mulai masuk menuju ke wilayah Indonesia sebelah utara,” ucap Hary.

    Dia menjelaskan, di dalam aliran tersebut terdapat udara dingin dan kering di Australia bagian timur, yang sampai saat ini terpantau sedang masuk ke wilayah Samudra Hindia sebelah selatan Sumatera hingga Nusa Tenggara Barat, termasuk ke Laut Arafura dan Teluk Carpentaria.

    “Kondisi tersebut menyebabkan peningkatan potensi hujan di sebagian besar wilayah Indonesia,” katanya. 

    Hary juga menjelaskan adanya massa udara basah dengan kelembapan udara 20-80 persen di ketinggian 1.500 meter, 3.000 meter, dan di 5.000 meter. “Terkonsentrasi di puluhan wilayah.”

    Hal ini mendukung proses konveksi dalam skala lokal sehingga juga turut mendukung pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia. 

    Indikasi potensi hujan intensitas lebat disertai petir dan angin kencang diprediksi akan terjadi sampai 8 Desember 2016. Hal itu akan terjadi di sejumlah kawasan.

    Mulai Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jabodetabek, Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. 

    Lalu Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Bali, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. “Jadi ada indikasi hujan lebat berskala harian dapat meningkatkan bencana hidrometeoreologi.”

    AVIT HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.