Alasan Ade Komarudin Absen di Pelantikan Setya Novanto  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua DPR Ade Komaruddin memberi keterangan dihadapan awak media usai mengikuti rapat pimpinan DPR di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 29 November 2016. Dalam keterangannya is akan mengikuti ketentuan DPR yang berlaku dan sepenuhnya menyerahkan kepada Partai pengusung dirinya. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ketua DPR Ade Komaruddin memberi keterangan dihadapan awak media usai mengikuti rapat pimpinan DPR di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 29 November 2016. Dalam keterangannya is akan mengikuti ketentuan DPR yang berlaku dan sepenuhnya menyerahkan kepada Partai pengusung dirinya. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Ade Komarudin tidak hadir dalam prosesi serah terima jabatan Ketua DPR yang baru kepada Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar Setya Novanto. Ade mengatakan beberapa tahun belakangan dia sudah jarang mengecek kesehatannya.

    "Saya kecapaian, sudah tidak kontrol hampir beberapa tahun. Ternyata saya harus kontrol kesehatan dengan baik. Dan selama ini saya terlalu sibuk. Dan ini peringatan kepada saya dari Allah jadi harus jalani pemeriksaan," kata Akom, sapaan akrab Ade, di Terminal 2 E Bandara Soekarno-Hatta, Ahad, 4 Desember 2016.

    Meski begitu, Akom mengaku tidak masalah dengan pergantian jabatan yang terjadi kepadanya. Akom mengatakan akan menyerahkan keputusan tersebut kepada Tuhan.

    "Dari awal saya sudah sampaikan soal pergantian. Saya tidak masalah, saya sampaikan rapopo. Saya ikhlas, saya tawakal. Saya tidak akan ungkit-ungkit masalah itu," kata Akom.

    Menurut Akom, sebuah jabatan merupakan amanah yang sewaktu-waktu akan diambil Tuhan. Untuk itu, setiap orang diharuskan ikhlas. Namun, apabila diberi kesempatan harus diterima dengan baik. Meski begitu, Akom mengatakan akan tetap menyelesaikan masalahnya dengan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) soal dugaan sejumlah pelanggaran etik terhadapnya.

    Atas dasar tersebut, Ade diberi sanksi hukuman sedang dengan diberhentikan dari posisinya sebagai Ketua DPR. Namun, penyelesaian masalah dengan MKD itu, Akom mengaku tidak serta-merta membuat dia berkeinginan untuk kembali merebut jabatan Ketua DPR.

    "Saya tidak mau permasalahkan itu. Saya sekali lagi ikhlas dan tidak ada kaitannya lagi dengan itu. Kasihan dengan negeri ini kalau masalah seperti ini dibiasakan," kata Akom.

    Pergantian Ketua DPR disetujui oleh sebagian besar anggota DPR. Perwakilan Fraksi Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Persatuan Pembangunan, Partai NasDem, dan Partai Hanura menyatakan dukungan mereka. Palu sidang pun diketukkan. Setya kemudian diambil sumpahnya oleh pelaksana harian Ketua Mahkamah Agung.

    LARISSA HUDA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.