Pemerintah Dinilai Diskriminatif pada Penghayat Kepercayaan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah penghayat kepercayaan menggotong gunungan saat Kirab Grebek Suro di Padepokan Wulan Tumanggal Desa Dukuh Tengah, Kabupaten Tegal, JawaTengah, 13 Oktober 2015. Memperingati 1 Suro (Tahun Baru Jawa) penghayat kepercayaan (jamaah) dari berbagai daerah melakukan Kirab Grebek Suro dengan membawa gunungan hasil bumi dan hewan ternak guna mensyukuri rezeki bersama-sama. ANTARA FOTO

    Sejumlah penghayat kepercayaan menggotong gunungan saat Kirab Grebek Suro di Padepokan Wulan Tumanggal Desa Dukuh Tengah, Kabupaten Tegal, JawaTengah, 13 Oktober 2015. Memperingati 1 Suro (Tahun Baru Jawa) penghayat kepercayaan (jamaah) dari berbagai daerah melakukan Kirab Grebek Suro dengan membawa gunungan hasil bumi dan hewan ternak guna mensyukuri rezeki bersama-sama. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Bojonegoro- Pengosongan kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP) terhadap 10 juta penghayat kepercayaan dinilai sebagai bentuk diskriminasi terhadap para penghayat kepercayaan. ”Itu sangat-sangat diskriminatis,” ujar Suharto, salah satu peserta Festival HAM di Pendopo Kabupaten Bojonegoro, Rabu, 30 November 2016.

    Pemerintah diminta untuk membatalkan aturan itu demi hukum guna menghadirkan keadilan. Suharto juga berharap para anggota Dewan Perwakilan Rakyat mendengarkan aspirasi itu dan menghapus diskiriminasi yang dialami kelompok penghayat kepercayaan.

    Deputi V Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu Politik, Hukum Pertahanan, Keamanan dan HAM Kantor Staf Presien RI, Jaleswari Pramodawardhani mengatakan, dirinya akan bicara di Departemen Hukum dan HAM pada 6 Desember nanti. Ia berharap Sidarto Danusubroto, sebagai anggota Wantimpres, untuk menyampaikan hal itu ke Presiden Joko Widodo. “Bapak Danu, untuk mengingatkan ke Pak Presiden,” ujarnya menjawab pertanyaan di diskusi di Pendopo Kabupaten Bojonegoro itu.

    Ia optimis Presiden akan memberikan keputusan yang sesuai dengan konstitusi dan Pancasila. “Kita optimis itu,” imbuhnya.

    SUJADMIKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.