Khofifah Optimistis Indonesia Bebas Anak Jalanan pada 2017  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa duduk bersama anak-anak yang tertimpa musibah tanah longsor di tempat pengungsian Sekolah Dasar Negeri Jelok, Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah, 21 Juni 2016. Puluhan anak-anak tersebut sudah tiga hari tinggal di tempat pengungsian. TEMPO/Pius Erlangga

    Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa duduk bersama anak-anak yang tertimpa musibah tanah longsor di tempat pengungsian Sekolah Dasar Negeri Jelok, Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah, 21 Juni 2016. Puluhan anak-anak tersebut sudah tiga hari tinggal di tempat pengungsian. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa memaparkan data anak jalanan terkini dalam acara Deklarasi Menuju Indonesia Bebas Anak Jalanan 2017 di Silang Monas, Jakarta, Minggu, 27 November 2016.

    Dari total 33.400 anak jalanan se-Indonesia, jumlah terbanyak berada di DKI Jakarta, yakni 7.600 orang. Disusul Jawa Barat sebanyak 5.200 dan Jawa Tengah sekitar 5.000 orang. Khofifah optimistis program Indonesia Bebas Anak Jalanan 2017 dapat tercapai. "Kalau kita tidak optimistis, kita tidak akan bergerak," kata Khofifah.

    Menurut Khofifah, deklarasi itu berawal dari proses penggodokan bersama sejak Mei 2015 dan dilanjutkan pada Februari 2016. Akhirnya dipilih Minggu pagi untuk melakukan komitmen bersama bahwa per Desember 2017 Indonesia bebas anak jalanan.

    Deklarasi yang dibacakan oleh dua anak laki-laki dan perempuan ini berisi bahwa anak jalanan akan ke sekolah untuk menuntut ilmu dan mengisi kegiatan sehari-hari dengan kegiatan yang bermanfaat. Selain itu, mereka bersedia menjadi pelopor serta contoh bagi teman-teman lain dalam mendukung program Indonesia Bebas Anak Jalanan.

    Deklarasi tidak hanya dihadiri oleh ratusan anak dari berbagai wilayah di Jakarta, tapi juga rombongan anak dari Serang, Banten. Selain deklarasi, anak-anak dihibur dengan badut dan menari bersama. Khofifah tampak tidak canggung untuk menari di antara anak-anak tersebut.

    Keberadaan anak usia sekolah di jalanan memang terlihat cukup memprihatinkan. Pemandangan anak-anak berdagang dapat ditemui di perempatan lampu merah. Terkadang mereka mengemis, membersihkan kaca mobil, dan mengamen.

    Kegiatan deklarasi juga dihadiri oleh pegiat pendidikan anak, seperti Kak Seto, Ibu Kembar, serta perwakilan lembaga swadaya dari Riau, Bali, dan Serang. Di akhir acara, banyak yang ingin berfoto bersama dengan Khofifah.

    MARIA FRANSISCA | KUKUH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.