Ini Kata Polri Soal Pertemuan Tito dengan Penggiat Medsos

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian memberikan keterangan setelah menjadi pembicara dalam rapat koordinasi gubernur di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Kamis, 24 November 2016. Tempo/Arkhelaus W.

    Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian memberikan keterangan setelah menjadi pembicara dalam rapat koordinasi gubernur di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Kamis, 24 November 2016. Tempo/Arkhelaus W.

    TEMPO.CO, Jakarta – Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia membantah adanya pembicaraan politik dalam pertemuan penggiat media sosial dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar mengatakan pertemuan itu membicarakan rencana pembentukan komunitas anti-hoax.

    "Jadi mereka ingin membantu kepolisian mengatasi hoax yang mengarah pada upaya memecah belah bangsa melalui informasi yang arahnya adu domba," kata Boy, di Mabes Polri, Jakarta, Sabtu, 26 November 2016.

    Boy menjelaskan, pertemuan itu terjadi pada Rabu, 23 November 2016, pukul 10.15-12.00 WIB. Saat itu, Boy mengaku ikut mendampingi Tito menerima permohonan audiensi dari para penggiat medsos yang berjumlah 21 orang dan dikoordinasi Judith Lubis. "Saat itu disampaikan pada Kapolri bahwa mereka ingin membentuk komunitas anti-hoax," ucapnya.

    Boy menambahkan, Kapolri sangat menyambut baik rencana tersebut. Bahkan deklarasi komunitas itu direncanakan dilakukan dalam beberapa hari ke depan. Menjelang pertemuan usai, ada foto-foto yang kemudian diunggah di medsos.

    Baca Juga: Pemerintah Diminta Tegas Terhadap Anti-Bhinneka Tunggal Ika

    Namun, kata Boy, muncul berita Kapolri bertemu dengan salah satu pendukung pasangan calon gubernur dan membicarakan soal politik. Dia menegaskan berita itu sangat tidak benar.

    Boy menegaskan tidak ada pembicaraan agenda politik. "Dukung-mendukung itu tidak ada. Tidak mungkin itu dilakukan."

    Sebelumnya juga beredar kabar di medsos akan ada gerakan penarikan uang besar-besaran (rush money). Gerakan itu diisukan terjadi di tengah situasi perkara Ahok yang memanas. Informasi yang beredar, rush money digaungkan menjelang demonstrasi susulan terhadap kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

    Tito mengatakan polisi menyelidiki penyebar isu rush money. Melalui unit cyber, polisi akan cari siapa penyebar isu itu. "Kami akan tangkap," kata Tito seusai seminar Membangun Nilai-Nilai Kebangsaan Dalam Bingkai Kebhinnekaan di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur, Sabtu, 19 November 2016.

    Baca: Sri Mulyani: Gaji Naik 1.000 Kali Takkan Cukup kalau Tamak

    Isu rush money itu, menurut Tito, sengaja diembuskan untuk mengganggu ekonomi Indonesia. Karena itu, masyarakat jangan sampai terpengaruh isu itu. "Isu itu hoax, tidak betul ada rush money," katanya.

    AMIRULLAH | EDWIN FAJERIAL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Harley Davidson dan Brompton dalam Daftar 5 Noda Garuda Indonesia

    Garuda Indonesia tercoreng berbagai noda, dari masalah tata kelola hingga pelanggaran hukum. Erick Thohir diharapkan akan membenahi kekacauan ini.