Hadiri Kongres Muslimat NU, Jusuf Kalla: Kesejahteraan Tercapai jika Ada Kedamaian

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla (kiri) berjabat tangan dengan penulis buku

    Wakil Presiden Jusuf Kalla (kiri) berjabat tangan dengan penulis buku "Jenderal Polisi RS Soekanto Tjokroadiatmodjo" Awaloedin Djamin saat peluncuran buku di PTIK Jakarta, 11 Agustus 2016. Buku itu berisi kisah Kepala Kepolisian RI pertama RS Soekanto. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan pentingnya penciptaan keadilan dan kemakmuran di masyarakat. Banyak konflik terjadi dipicu oleh tak adanya keadilan yang tercipta.  

    "Damai langgeng kalau ada kesejahteraan. Kesejahteraan dapat tercapai kalau ada kedamaian," ucap Kalla saat menutup Kongres Muslimat Nahdlatul Ulama XVII, Sabtu, 26 November 2016, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.

    Kalla mengatakan itu terkait dengan tema kongres tersebut, yakni “Dengan Semangat Islam Nusantara, Kita Wujudkan Indonesia Damai”. Menurut Kalla, damai selalu didahului rasa adil, saling menghargai, dan toleransi. Keadilan yang diiringi penciptaan kesejahteraan menjadi penting dalam pembangunan bangsa.

    Dalam konteks inilah, ujar Kalla, pemerintah mengapresiasi peran Muslimat NU. Badan otonom NU yang memberdayakan kaum perempuan ini dianggap ikut serta dalam membangun kesejahteraan bangsa.

    "Muslimat Nahdlatul Ulama memberikan dampak sosial yang luar biasa kepada masyarakat," tutur Kalla. "Berapa banyak tiap hari anak yang dicerdaskan. Berapa banyak masyarakat yang diberikan pengobatan."

    Kongres Muslimat NU XVII berlangsung sejak 23 November 2016. Diikuti 560 cabang, kongres itu kembali memilih Khofifah Indar Parawansa sebagai Ketua Umum Muslimat NU periode 2016-2021. Upacara penutupan ini dihadiri Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin, mantan Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi, dan pengusaha nasional Mooryati Soedibyo.

    Dalam sambutannya, Khofifah mengatakan program Muslimat NU ke depan antara lain menyiapkan grand design menuju satu abad NU dan menyiapkan desa ahlu sunnah wal jamaah. Di desa itu, dipastikan masyarakatnya punya toleransi dan moderasi yang bagus serta mampu membangun keseimbangan dan memberikan keadilan.

    "Format ini jadi ruh kepemimpinan, sosial, ekonomi, budaya, dan lainnya," ucapa Khofifah.

    AMIRULLAH



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.