Bojonegoro Dekati Siaga Merah Banjir Bengawan Solo  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga menerobos genangan banjir akibat luapan Sungai Bengawan Solo di Desa Ledokwetan, Kecamatan Kota, Bojonegoro, Jatim, Sabtu (16/2) malam. ANTARA/Aguk Sudarmojo

    Sejumlah warga menerobos genangan banjir akibat luapan Sungai Bengawan Solo di Desa Ledokwetan, Kecamatan Kota, Bojonegoro, Jatim, Sabtu (16/2) malam. ANTARA/Aguk Sudarmojo

    TEMPO.CO, Bojonegoro - Luapan Sungai Bengawan Solo yang mengaliri Bojonegoro dan sekitarnya terus meningkat pada Sabtu siang, 26 November 2016. Tinggi muka air (TMA) di sungai sudah 14,73 peilschaal atau berstatus siaga kuning dan kurang 27 sentimeter berstatus siaga merah banjir jika di angka 15,00 peilschaal.

    Lebih dari 80 warga Kota Bojonegoro yang bermukim di sekitar bantaran Sungai Bengawan Solo telah mengungsi. Mereka memilih memindahkan peralatan rumah tangga dan sepeda motor ke tempat yang lebih tinggi.

    Barang-barang warga, antara lain, dipindahkan ke tanggul Jalan Matekram, Kelurahan Ledok Kulon, Kota Bojonegoro. “Ya, sudah kami pindahkan,” ucap Suroso, warga Kelurahan Ledok Kulon, Sabtu.

    Sebagai catatan, TMA di Sungai Bengawan Solo menunjukkan peningkatan pesat pada Sabtu pagi. Pada pukul 07.00, misalnya, alat pencatat TMA di Taman Bengawan Solo, Kota Bojonegoro, baru menunjukkan angka 14,40 peilschaal, tapi pada pukul 08.00 naik menjadi 14,50 peilschaal.

    Selanjutnya pada pukul 09.15, angka itu naik menjadi 14,60 peilschaal, dan pukul 12.00 naik menjadi 14.78 peilschaal.

    Meningkatnya air Bengawan Solo juga membuat banjir meluas di sejumlah desa/kelurahan di Bojonegoro. Di Kecamatan Kota Bojonegoro, jika pada Sabtu pagi hanya sekitar 80 rumah yang terendam banjir, pada Sabtu siang lebih dari 150 unit rumah terendam.

    Di Jalan Matekram, misalnya, sebelumnya ketinggian air sekitar 50 sentimeter, tapi kini naik menjadi 70-80 sentimeter. “Ya, naik terus,” ujar Umi, warga setempat, kepada Tempo, Sabtu, 26 November 2016.

    Banjir juga melanda Desa Ngablak dan Ngulanan, Kecamatan Dander. Desa yang berlokasi di pinggir Sungai Bengawan Solo ini menjadi langganan banjir, terutama jika terjadi hujan deras. Banjir di desa ini sudah naik ke jalan-jalan dengan ketinggian 40-60 sentimeter. Selain itu, Desa di Cengungklung, Kecamatan Gayam, dan Desa Sumbang Timun, Kecamatan Trucuk, digenangi banjir. Di perkampungan ini, terdapat lebih dari 200 rumah terendam banjir.

    Bupati Bojonegoro Suyoto melakukan sidak ke sejumlah tempat yang direndam banjir, di antaranya Taman Bengawan Solo, tempat dipasangnya alat deteksi dini banjir. Alat tersebut akan berbunyi jika posisi permukaan air berada pada 15,00 peilschaal atau siaga merah. “Warga diminta untuk siaga,” ujarnya, Sabtu, 26 November 2016.

    Suyoto menyebutkan kemungkinan air Sungai Bengawan Solo akan meningkat di level siaga merah atau siaga III. Alasannya, hulu sungai di Dungus, Ngawi, dan hulu sungai Pegunungan Kendeng Utara masih terdapat banjir. Posisi siaga III kemungkinan terjadi pada Sabtu malam.

    Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bojonegoro telah menyiapkan karung berisi pasir yang digunakan untuk menutup pintu-pintu darurat. Pintu air darurat itu berjumlah sekitar 85 unit dan berada di tanggul barat dan utara Kota Bojonegoro.

    Baca:
    Disebut Ahok Bongkar APBD, Ini Jawaban Soni Sumarsono

    Kasus Ahmad Dhani, Polisi Ancam Bawa Paksa Saksi

    Buntet Pesantren Tak Dukung Demo 212, Kyai Adib: Ahok Kecil

    SUJATMIKO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.