Produksi Padi Subang dan Karawang Pecahkan Rekor MURI  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani menanam bibit padi jenis Hibrida dan Ciherang yang dibudidayakan oleh  perusahaan Sanghiyangsri di desa Sukamandi Jaya, Subang, Jawa Barat,(16/9). Foto: TEMPO/Imam Sukamto

    Petani menanam bibit padi jenis Hibrida dan Ciherang yang dibudidayakan oleh perusahaan Sanghiyangsri di desa Sukamandi Jaya, Subang, Jawa Barat,(16/9). Foto: TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.COSubang - Museum Rekor Indonesia/Dunia (MURI) mencatatkan hasil produksi padi 10,2 ton per hektare di Desa Sukasari, Kecamatan Pamanukan, Subang, dan Desa Rawagempol, Karawang, Jawa Barat, menjadi rekor tertinggi di Indonesia. 

    "Sesuai hasil demo plot, produksi padi sebanyak 57,7 kilogram per meter persegi. Artinya, 1 hektare sama dengan 10,2 ton. Ini menjadi angka produksi tertinggi di Indonesia," kata Manajer Eksekutif MURI Yusuf Alkadri kepada Tempo di Desa Rancasari, Subang, Rabu, 23 November 2016. 

    Ia mengungkapkan, rekor tersebut memecahkan rekor capaian produksi padi yang dihasilkan petani di Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada 2014. "Waktu itu, capai produksinya hanya 9,6 ton per hektare," ujar Yusuf.

    Menurut Yusuf, MURI telah melakukan survei dan verifikasi data dari berbagai sumber sebelum menetapkan rekor produksi padi petani Subang dan Karawang tersebut. Rekor itu diharapkan menjadi motivasi khusus buat para petani di Indonesia untuk terus berkompetisi meningkatkan produksi padinya. "Supaya rekor yang ada sekarang bisa dipecahkan lagi tahun berikutnya," tuturnya.

    Ketua Komunitas Petani Pantai Utara ( Pantura) Karawang-Subang-Indramayu-Cirebon Suparyo mengatakan keberhasilan petani Desa Rancasari memproduksi padi 10,2 ton per hektare ditentukan oleh pola pemupukan yang benar dan baik. "Mereka menerapkan pola pemupukan mikroprimer dan makroprimer yang terdiri atas 13 unsur nutrisi yang terdapat dalam pupuk majemuk dengan baik, sehingga hasil produksi padinya pun tinggi," ucap Suparyo. 

    Menurut Suparyo, pemakaian 13 unsur nutrisi dalam sistem pemupukan majemuk sangat mempengaruhi jumlah anakan tanaman padi lebih banyak, sehingga bulir padi yang dihasilkan juga lebih banyak ketimbang menggunakan sistem pemupukan majemuk biasa.

    Sebetulnya produksi padi jenis Ciherang di Desa Rancasari mencapai 11,7 ton. Namun jumlah itu tidak dimasukkan dalam survei MURI. Sebab, saat panen berlangsung, batang padi roboh akibat serangan cuaca ekstrem.

    Hermawan Satrio, Direktur Utama PT Kertopati Kencana, mengatakan pupuk majemuk yang digunakan para petani mampu meningkatkan produksi padi asalkan diaplikasikan dengan benar. "Aplikasi pertama pakai pupuk Asinta+SAP, aplikasi kedua Tawon 16, dan pada aplikasi ketiga memakai Boost 324," kata pengusaha pupuk itu.

    Dia mengklaim produksi padi yang menggunakan pupuk majemuk dengan benar akan menghasilkan panen lebih tinggi. "Tahun depan mungkin ada yang bisa capai 12 ton per hektare," ucap Hermawan.

    Menurut dia, Indonesia sebenarnya bisa mencapai swasembada pangan dengan mudah. Produksi padi petani Indonesia yang saat ini baru mencapai angka rata-rata 5,5 ton per hektare bisa ditingkatkan menjadi 6,5 ton jika menggunakan pupuk majemuk yang bagus dan benar.

    NANANG SUTISNA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.