Isu Makar, Gerindra: Kepolisian Harusnya Lebih Persuasif

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) berbincang dengan Sekjen Gerindra, Ahmad Muzani saat datang ke Kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Jalan TB Simatupang, Jakarta, Sabtu  (17/5). TEMPO/Aditia Noviansyah

    Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) berbincang dengan Sekjen Gerindra, Ahmad Muzani saat datang ke Kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Jalan TB Simatupang, Jakarta, Sabtu (17/5). TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani menilai kekhawatiran Kepolisian RI terhadap indikasi makar dalam demonstrasi 25 November dan 2 Desember itu berlebihan. Menurut dia, kepolisian harus bersikap lebih persuasif.

    Muzani mengatakan upaya persuasif bisa membuat kondisi negara lebih kondusif. "Mau aksi 25 November atau 2 Desember, semua bisa persuasif sehingga bisa diselesaikan dalam tradisi bernegara," kata Muzani di rumah KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi'i di Tebet, Jakarta Selatan, Rabu, 23 November 2016.

    Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan ada agenda terselubung dalam unjuk rasa yang akan digelar di gedung Dewan Perwakilan Rakyat pada 25 November mendatang. Tito mengatakan ada usaha menggulingkan pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam aksi tersebut.

    Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Komisaris Jenderal Ari Dono Sukmanto pun mengatakan, pihaknya menerima laporan dari masyarakat mengenai upaya pemakzulan atau makar dalam unjuk rasa tersebut. Kepolisian, kata dia, sudah memulai penyelidikan kasus tersebut.

    Hari ini, Ketua Umum Prabowo Subianto menemui pemimpin Perguruan As Syafiiyah, KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi'i. Muzani mengatakan pertemuan tersebut sebagai acara silaturahmi dan memenuhi keinginan para ulama untuk mengetahui kondisi kenegaraan termutakhir.

    Muzani tak membantah pertemuan tersebut membahas rencana aksi 2 Desember. Tapi topik itu tidak mendominasi pembicaraan. Prabowo, kata Muzani, banyak berbicara persoalan kebangsaan. "Itu (aksi 2 Desember) lampiran, ibarat baca buku, jadi lampiran dan menjadi catatan," kata dia.

    ARKHELAUS W. | REZKI ALVIONITASARI


    Baca juga:
    Rizieq: Halangi Demo, Presiden atau Kapolri Bisa Dipidana 
    Polisi Bidik Pengguna Media Sosial Penyebar Rush Money


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.