Ada Ancaman Demo 212, Dua Agenda Menteri Ryamizard Diundur  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo usai mendapat tanda kehormatan Bintang Yudha Dharma Utama dari negara di kantor Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta, 28 Juni 2016. Bintang Yudha Dharma Utama merupakan sebuah tanda kehormatan yang dikeluarkan oleh angkatan bersenjata yaitu Polri dan TNI secara bersama. TEMPO/Imam Sukamto

    Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo usai mendapat tanda kehormatan Bintang Yudha Dharma Utama dari negara di kantor Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta, 28 Juni 2016. Bintang Yudha Dharma Utama merupakan sebuah tanda kehormatan yang dikeluarkan oleh angkatan bersenjata yaitu Polri dan TNI secara bersama. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menunda pertemuan trilateral dengan Menteri Pertahanan Malaysia dan Filipina yang hendak membahas pengamanan perairan ketiga negara. Penundaan ini berkaitan dengan isu yang lebih penting, yakni ancaman demo besar 2 Desember yang berpotensi makar.

    "Situasi lagi begini (panas), masak saya pergi-pergi terus. Setelah enggak ada demo besar-besaran, baru saya pergi," kata Ryamizard saat dicegat awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu, 23 November 2016.

    Dua anak buah kapal asal Indonesia diculik oleh kelompok bersenjata pada Sabtu lalu di perairan Malaysia. Penculikan terjadi pada pukul 18.30 waktu setempat, di perairan dekat Kota Lahat Datu, Sabah Timur, Malaysia.

    Penculikan tersebut bukan yang pertama bulan ini. Dua pekan lalu, penculikan serupa terjadi di tempat dua anak buah kapal juga diculik oleh pasukan bersenjata.

    Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sempat mengatakan Ryamizard akan menggelar pertemuan trilateral dengan Malaysia dan Filipina untuk merespons kasus di Sabah tersebut. Rencananya, dibahas strategi pengamanan lebih lanjut agar penculikan tak terulang.

    Ryamizard melanjutkan, strategi pengamanan yang akan dibahas ketika pertemuan itu lebih ke pengamanan di dekat Tawau, Filipina Selatan, ke Sabah, Malaysia. Perairan itu, kata Ryamizard, dekat perumahan kumuh yang mencurigakan.

    "Kalau ada teroris, ya serbu saja," ujar dia.

    Ditanyai apakah akan membahas strategi agar memastikan kapal tak lagi lewat daerah berbahaya, Ryamizard mengatakan tidak. "Nyusahin orang saja," kata dia.

    ISTMAN M.P.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.