Diperiksa 8,5 Jam, Ahok Mendapat 27 Pertanyaan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tersangka kasus dugaan penistaan agama, Ahok, usai menjalani pemeriksaan di Rupatama, Mabes Polri, Jakarta, 22 November 2016. Pemeriksaan sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama ini berlangsung selama 8 jam. TEMPO/M Iqbal ichsan

    Tersangka kasus dugaan penistaan agama, Ahok, usai menjalani pemeriksaan di Rupatama, Mabes Polri, Jakarta, 22 November 2016. Pemeriksaan sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama ini berlangsung selama 8 jam. TEMPO/M Iqbal ichsan

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubenur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjalani pemeriksaan perdananya sebagai tersangka di Markas Besar Polri. Penyidik mencecarnya dengan 27 pertanyaan selama sekitar 8,5 jam sejak pukul 09.00.

    "Obyek pemeriksaan mengulang dari ketetangan sebelumnya. Pak Ahok hanya menembahkan keterangan sebelumnya supaya terang perkara ini," kata kuasa hukum Ahok, Sirra Prayuna, di Mabes Polri, Senin, 22 November 2016.

    Ini merupakan pemeriksaan pertama Ahok sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama.

    Sejak keluar dari Ruang Rapat Utama Mabes Polri, ia lebih banyak menunduk. Sembari menunggu adzan Magrib berkumandang, ia sesekali berbisik kepada tim kuasa hukumnya.  Tak ada senyum di wajah Ahok. Dia tak menyampaikan keterangan apapun kepada pers. Dia konsisten bungkam hingga memasuki mobilnya.

    Sirra menerangkan akan mendatangkan tujuh saksi dan 14 ahli untuk memberikan keterangan kepada penyidik. Saksi dan ahli tersebut, kata dia, sama dengan saat penyelidikan. "Pekan ini, kami diminta menyerahkan nama-namanya kepada penyidik. Sehingga bisa segera diperiksa," ujarnya.

    Badan Reserse Kriminal Polri menetapkan Ahok sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama dengan menyebut Surat Al-Maidah ayat 51 saat berpidato di Kepulauan Seribu pada akhir September 2016.

    DEWI SUCI RAHAYU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.