Wakapolri: Potensi Makar 2 Desember Belum Kuat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian menyematkan tanda pangkat kepada Wakil Kepala Polri (Wakapolri) yang baru Komisaris Jenderal Syafruddin pada upacara pelantikan di Rupatama Mabes Polri, Jakarta, 10 September 2016. Mantan Kepala Lembaga Pendidikan Polri (Kalemdikpol) Komisaris Jenderal Syafruddin menggantikan Budi Gunawan yang kini menjabat Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian menyematkan tanda pangkat kepada Wakil Kepala Polri (Wakapolri) yang baru Komisaris Jenderal Syafruddin pada upacara pelantikan di Rupatama Mabes Polri, Jakarta, 10 September 2016. Mantan Kepala Lembaga Pendidikan Polri (Kalemdikpol) Komisaris Jenderal Syafruddin menggantikan Budi Gunawan yang kini menjabat Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Kepala Kepolisian RI Komisaris Jenderal Syafruddin mengatakan potensi makar pada demonstrasi besar-besaran 2 Desember 2016 belum kuat.

    Menurut Syafruddin, hal itu masih didalami lagi. "Belum, belum. Masih diselidiki oleh Bareskrim," ujarnya saat ditemui Tempo di Istana Kepresidenan, Selasa, 22 November 2016.

    Syafruddin mengatakan, informasi yang diungkapkan oleh Kapolri Tito Karnavian Senin kemarin belum bisa ia sampaikan detailnya karena masih dalam penyelidikan, yang meliputi siapa saja yang punya maksud makar, dari mana polisi mendapat info intelijen soal makar, dan sejak kapan.

    Namun Syafruddin memastikan semua aparat penegak hukum memantau terus potensi tersebut. Tidak hanya kepolisian, tapi juga TNI, Badan Intelijen Negara, serta Kemenkopolhukam. "Kapolri sudah statement kuat, Panglima juga sudah statement kuat. Kegiatan itu dipantau dari berbagai aspek," katanya.

    Senin kemarin, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan bahwa aksi 25 November atau 2 Desember berpotensi berujung pada upaya penggulingan pemerintahan atau makar. Tito mengaku mendapat informasi intelijen bahwa ada penyusup di balik rencana demonstrasi itu.

    Bahkan, ada informasi intelijen perihal pendudukan gedung pemerintahan pada demonstrasi besar-besaran itu. Salah satunya gedung DPR. Berdasarkan undang-undang, hal itu dilarang dan merupakan pelanggaran hukum.

    ISTMAN MP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.