Jokowi Diminta tak Kompromi dengan Kelompok Intoleran  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gerakan #SelamatkanJogja berdemonstrasi menuntut polisi menindak kelompok intoleran pada Selasa 10 Mei 2016. (TEMPO/Shinta Maharani)

    Gerakan #SelamatkanJogja berdemonstrasi menuntut polisi menindak kelompok intoleran pada Selasa 10 Mei 2016. (TEMPO/Shinta Maharani)

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo diminta tak berkompromi dengan kelompok-kelompok yang dianggap intoleran yang memiliki agenda kekuasaan. Permintaan ini disuarakan Jaringan Antariman Indonesia setelah melihat situasi yang berkembang pascademo 4 November 2016.

    "Isu-isu yang muncul saat ini menjadi demikian krusial jika terus dibiarkan atas nama demokrasi dan kebebasan berbicara," kata Koordinator Interfidei, Elga J. Saparung, dalam pernyataan sikapnya di kantor Maarif Institute, Tebet Barat, Jakarta Selatan, Senin, 21 November 2016.

    Pernyataan sikap dihadiri Pendeta Jacky Manuputty dari LAIM Ambon, Miryam Nainggolan dari JAII Jakarta, Gufron Mabruri dari Imparsial, dan Wawan Gunawan dari Jakatarub Bandung.

    Baca:
    Panglima TNI: Kalau Ada Tindakan Makar, Itu Sudah Urusan TNI
    Jokowi Bicara Aksi yang Membahayakan NKRI dan Demokrasi
    Jokowi Tuding Ada Aktor Politik Demo 4 November, Siapa?

    Elga mengatakan demokrasi memiliki aturan yang menjadi batas apakah demo masih mengemban nilai substansial demokrasi atau hanya aksi elitis yang berhasrat kekuasaan jangka pendek. Jaringan Antariman juga meminta Jokowi melindungi kepentingan rakyat Indonesia, mayoritas ataupun minoritas, apa pun latar belakang agama, masyarakat perkotaan ataupun pedesaan, yang menginginkan Indonesia tegak dengan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945.

    Jaringan Antariman menilai, meskipun demo 4 November berlangsung damai, tetap memiliki cacat demokrasi. Aksi itu disebut sebagai gerakan uang besar dan isu agama yang dimanfaatkan untuk membelah masyarakat Indonesia. Buntut aksi tidak seluas wacana yang disampaikan di ruang publik.

    "Ada isu kudeta yang diteriakkan tokoh aksi, ada wacana politik kekerasan yang bisa mengarah pada isu kekerasan, termasuk yang disampaikan atas nama jihad," kata Elga.

    Jaringan Antariman meminta tidak ada lagi demo lanjutan, misalnya demo yang direncanakan pada 2 Desember. Wawan Gunawan mengatakan agenda demo 2 Desember sudah tidak jelas. "Kalau menuntut keadilan kasus Ahok, kan sekarang tengah diterjemahkan dalam proses hukum yang sedang berlangsung," kata Elga.

    AMIRULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.