Menteri Tjahjo Sebut Musuh Indonesia Adalah Terorisme  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo (kanan) dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno (kiri) saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi II DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 19 September 2016. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo (kanan) dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno (kiri) saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi II DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 19 September 2016. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Samarinda - Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyatakan terorisme merupakan musuh bangsa Indonesia dalam pembangunan. Menurut dia, sejauh ini tidak ada masalah berarti dalam pembangunan. Mulai dari perencanaan, kata dia, sudah berjalan sesuai aturan.

    "Musuh bangsa ini, tantangan Indonesia bukan masalah-masalah yang berkaitan dengan pembangunan, semua sudah clear, perencanaan sudah bagus, tapi masalah radikalisme dan terorisme," kata Tjahjo saat menutup gelaran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-III Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) tingkat Nasional di Islamic Center, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu malam, 19 November 2016.

    Menteri Tjahjo mengatakan pencegahan dalam mendeteksi dini radikalisasi di Indonesia perlu dilakukan bersama-sama. Dia menjelaskan pencegahan terorisme harus diatasi mulai dari lingkungan terdekat. Tjahjo meminta semua anggota Korpri terjun ke masyarakat, membaur dengan berbagai agama untuk mendengar keluhan melihat gelagat di masyarakat. Dengan demikian bisa dilakukan deteksi dininya.

    "Seluruh jajaran TNI dan polisi pun memerintahkan yang sama, minimal salat Jumat, subuh, dan magrib menyebar salat di lingkungan masing-masing," katanya.

    Bukan hanya untuk umat muslim, Tjahjo menambahkan, untuk agama yang lain juga sama. Mereka juga harus sama-sama membangun kerukunan umat beragama. "Maksud kerukunan itu di mana yang minoritas harus menghargai mayoritas sebaliknya yang mayoritas melindungi yang minoritas," kata Tjahjo.

    Di Samarinda, belum lama ini, terjadi peristiwa peledakan bom di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur. Empat balita jadi korban, satu di antaranya, Intan Olivia Banjarnahor, 2,5 tahun, meninggal. Seluruh korban balita mengalami luka bakar.

    Selama sepekan pemeriksaan, polisi menetapkan tujuh orang tersangka setelah memeriksa 21 orang yang berkaitan dengan peristiwa bom gereja Samarinda. Salah satu pelakunya Juhanda alias Jo alias Muhammad Aceng yang merupakan residivis bom buku di Jakarta. Di Samarinda, Juhanda sehari-hari menjadi penjual ikan. Ia tinggal di masjid Al Mujahidin yang lokasi tak jauh dari Gereja Oikumene.

    FIRMAN HIDAYAT

    Baca juga:
    Tabungan Rey Utami Tak Sengaja Diintip, Saldonya Mengagetkan
    Mabes Polri: Penyebar Hoax Diancam Hukuman 6 Tahun Penjara


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.