Bom Samarinda: Keceriaan Intan 'Si Ceriwis' Tinggal Kenangan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Personel Brimob Polda Kaltim mengamankan lokasi ledakan bom di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, 13 November 2016. Ledakan bom tersebut menyebabkan lima orang terluka yang semuanya merupakan masih anak-anak. ANTARA/Amirulloh

    Personel Brimob Polda Kaltim mengamankan lokasi ledakan bom di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, 13 November 2016. Ledakan bom tersebut menyebabkan lima orang terluka yang semuanya merupakan masih anak-anak. ANTARA/Amirulloh

    TEMPO.CO, Samarinda - Keceriaan si mungil itu kini tinggal kenangan. Intan Octavia Banjarnahor dijemput ajal setelah belasan jam dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Syahranie, Samarinda. Korban bom molotov di Gereja Oikumene, Kelurahan Sengkotek, Kota Samarinda, ini meninggal, Senin, 14 November 2016, 04.30 Wita.

    Suasana duka sudah tampak dari ujung gang di Jalan Jati, Kelurahan Harapan Baru, Kota Samarinda. Di sini mendiang Intan tinggal bersama kedua orang tuanya, Anggiat Manumpak Banjarnahor, 33 tahun; dan Diana Susan boru Sinaga, 32 tahun. Para pelayat sudah memenuhi rumah hingga pekarangan milik Anggiat.

    Baca: Kisah Dalang Bom Samarinda, Mantan Napi & Tinggal di Masjid

    Di ruang utama rumah duka, Anggiat Manumpak dan Diana Susan seperti kehilangan tenaga. Keduanya hanya bisa bersandar di peti jenazah anak semata wayangnya itu. Air mata keduanya mengucur tanpa bisa tertahan. Sejumlah kerabat dan keluarga tiada henti memompa semangat Anggiat dan Diana agar tak larut dalam sedih.

    "Intan anaknya selalu ceria, dia ceriwis, suka mengajak ngobrol. Intan waktu kejadian itu main di teras rumah setelah jajan susu cair di warung depan gang, semua yang didekatnya diajak ngomong," kata Balutan Julianto Banjarnahor, paman Intan, mengenang tingkah laku Intan semasa hidupnya.

    Baca: Ini Kata Tetangga Soal Juhanda Pelaku Bom Gereja Oikumene

    Tak hanya kedua orang tua Intan, Julianto juga mengaku sangat kehilangan si balita cantik. Julianto mengatakan, ia sangat dekat karena kerap bermain jika berkunjung ke rumah Anggiat, kakak kandungnya. Kini keceriaan itu sudah tak mungkin ada lagi. Intan terbujur kaku di peti jenazah dengan kondisi mengenaskan.

    Menurut keterangan pejabat rumah sakit, Intan mengalami luka bakar mencapai 78 persen. Paru-parunya bengkak yang diduga akibat menghirup asap sisa ledakan. "Intan meninggal karena luka bakar yang parah," kata Rachim Dinata, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Syahranie.

    Baca: Balita Korban Bom di Gereja Oikumene Samarinda Meninggal

    Intan Octavia Banjarnahor meninggal setelah hampir 17 jam menanggung luka melepuh dan pembengkakan paru-paru. Deritanya itu akibat efek bom molotov yang dilemparkan Juhanda, eks narapida teroris, ke Gereja Oikumene di Samarinda, Minggu, 13 November 2016, sekitar 10.10 Wita.

    Baca Pula

    Jangan Lewatkan, Malam Ini Ada Fenomena Supermoon
    Bagaimana Supermoon Terjadi dan Kapan Bisa Dilihat?

    Selanjutnya: Intan bersama tiga balita lainnya...


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.