Polisi Periksa 19 Saksi Bom Gereja Oikumene Samarinda  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mengamati TKP ledakan bom molotov di Gereja Oikumene Samarinda, Kaltim, 13 November 2016. Seorang terduga pelaku peledakan berhasil ditangkap warga. TEMPO/Firman Hidayat

    Warga mengamati TKP ledakan bom molotov di Gereja Oikumene Samarinda, Kaltim, 13 November 2016. Seorang terduga pelaku peledakan berhasil ditangkap warga. TEMPO/Firman Hidayat

    TEMPO.CO, Samarinda – Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur Inspektur Jenderal Safaruddin mengatakan polisi sudah memeriksa 19 saksi terkait dengan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda. Polisi baru menahan seorang pelaku peledakan.

    "Yang diamankan satu orang, saksi yang diperiksa 19 orang," kata Safaruddin di Samarinda, Senin, 14 November 2016.

    Baca: Intan Korban Bom di Samarinda Tewas, Polisi: Kami Berduka

    Sejauh ini, menurut dia, polisi masih terus melakukan penyelidikan dengan memeriksa dan mendalami identifikasi di lokasi kejadian. Dia mengaku masih belum bisa menyimpulkan soal jenis bom molotov yang digunakan pelaku. "Jenis bom masih diselidiki, masih ada identifikasi lanjutan," ucapnya.

    Baca: Jusuf Kalla: Bom Samarinda Bukti Terorisme di Sekitar Kita

    Setelah ledakan bom di Gereja Oikumene, Kapolda menyatakan kondisi di Samarinda dan Kalimantan Timur sudah aman dan kondusif. Warga diminta tetap beraktivitas seperti biasa.

    Ledakan bom molotov di halaman Gereja Oikumene mengakibatkan empat balita mengalami luka bakar. Seorang di antaranya, Intan Olivia Banjarnahor, tewas.

    Intan mengalami luka bakar mencapai 78 persen di tubuhnya. Saat ini ada tiga korban lain yang masih dirawat di Rumah Sakit Umum daerah AW Syahranie Samarinda. Polisi juga sudah menahan pelaku pengeboman, Juhanda.

    FIRMAN HIDAYAT



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.