Jumat, 16 November 2018

Bom di Gereja Oikumene, Teror Pertama di Samarinda  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lokasi gereja menjadi korban bom di Samarinda, 13 November 2016. Istimewa

    Lokasi gereja menjadi korban bom di Samarinda, 13 November 2016. Istimewa

    TEMPO.COJakarta - Bom di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, merupakan aksi teror pertama di wilayah itu. Sebelumnya, Kota Samarinda terbilang jauh dari berbagai kasus teror. “Ini kasus pertama aksi teror di Samarinda,” kata Kepala Kepolisian Resor Samarinda Komisaris Besar Setyobudi Dwi Putro, Minggu, 13 November 2016.

    Setyobudi mengatakan kerukunan di antara umat beragama terjalin harmonis di tengah masyarakat Samarinda. Selama ini, menurut dia, tidak pernah ada permasalahan berbalut isu SARA yang menggelisahkan di Samarinda.

    Polres Samarinda memastikan kasus bom gereja ditangani Detasemen Khusus Antiteror 88. Setyobudi mengatakan Detasemen akan membantu dalam penyidikan tersangka yang diduga bernama Juhanda. Pemeriksaan tersangka dilakukan di Markas Polres Kota Samarinda. “Kami nantinya ikut membantu proses penyidikan kasus,” ujarnya.

    Ledakan bom molotov terjadi di Gereja Oikumene Sengkotek di Jalan Dr Cipto Mangunkusumo, Samarinda, Kalimantan Timur, pukul 10.10 Wita. Saat itu, sebagian jemaah gereja tengah beribadah, sedangkan sebagian lainnya berada di area parkir.

    Pelaku, yang mengenakan celana dan kaus hitam, melemparkan bom molotov yang langsung meledak dan melukai empat orang. Korban sebagian merupakan anak-anak. Setelah melempar bom, pelaku langsung kabur dan terjun ke Sungai Mahakam. Warga yang ada di sekitar lokasi mengejar dan menangkap pelaku sebelum akhirnya diserahkan ke polisi.

    S.G. WIBISONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.