Dua WNI Asal Buton Diculik di Sabah, Disandera Abu Sayyaf  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi,  menitikkan air mata saat pertemuan WNI ABK sandera perompak Somalia, Adi Manurung, dipertemukan dan diserahkan kepada keluarganya, di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin, 31 Oktober 2016. Empat yang dibebaskan bernama: Sudirman, Supardi, Adi Manurung dan Nelson Pesireron. TEMPO/Imam Sukamto

    Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, menitikkan air mata saat pertemuan WNI ABK sandera perompak Somalia, Adi Manurung, dipertemukan dan diserahkan kepada keluarganya, di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin, 31 Oktober 2016. Empat yang dibebaskan bernama: Sudirman, Supardi, Adi Manurung dan Nelson Pesireron. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Luar Negeri memastikan dua nakhoda kapal Malaysia asal Indonesia yang diculik di perairan Sabah, Malaysia, saat ini dalam penyanderaan kelompok Abu Sayyaf.

    Dua kapal penangkap ikan Malaysia dengan nomor seri SSK 00520 F dan SN 1154/4F dirampok sekelompok orang bersenjata di perairan Kertam, dekat Sungai Kinabatangan, Sabah, Sabtu pekan lalu.

    Enam anak buah kapal asal Indonesia dibebaskan, tapi dua kaptennya, La Utu bin La Raali, 56 tahun, dan La Hadi La Edi, 46 tahun, kedua-duanya asal Buton, Sulawesi Tenggara, diculik.

    Kini, mereka berada di tangan kelompok Abu Sayyaf di Pulau Sulu, Filipina Selatan. Kelompok yang berbeda dengan penculiknya.

    "Mereka kini berada di Pulau Sulu dalam penyanderaan kelompok Abu Sayyaf, tapi belum diketahui faksi yang mana," kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Lalu Muhammad Iqbal Songell, kepada Tempo, Jumat, 11 November 2016.

    Pihak penyandera telah menghubungi pemilik kapal dan istri para korban sejak Rabu, 9 November 2016. "Kami juga sudah berkomunikasi dengan kedua istri serta pemilik kapal dan meng-update perkembangan di lapangan," kata Iqbal.

    Wakil dari Kementerian Luar Negeri juga sudah mengunjungi keluarga di Wakatobi serta Buton.

    Terus berulangnya penculikan dan penyanderaan anak buah kapal WNI di perairan Sulu membuat Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi menemui Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Anifah Aman, 7 November 2016, dan Menteri Besar Sabah Datuk Seri Musa Aman serta Komandan Kawasan Keselamatan Khas Pantai Timur Sabah (ESSCOM), 8 November 2016.

    Kepada para petinggi Malaysia tersebut, Menlu Retno menegaskan harapan Indonesia agar keamanan di wilayah perairan tersebut dapat ditingkatkan.

    Tiga negara, Malaysia, Indonesia, dan Filipina dalam pertemuan di Yogyakarta pasca-penyanderaan WNI, juga menyepakati adanya patroli bersama. Namun hingga kini, mekanisme dan standar prosedur operasi masih terus dinegosiasikan. Meski demikian, antara Indonesia dan Filipina patroli bersama sudah mulai dilaksanakan.

    NATALIA SANTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.