DIY Gelar Jambore Difabel  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah mural bertuliskan caci maki untuk aparat pemerintah kota Yogyakarta terlihat di pojok jalan Kolonel Sugiyono, Yogyakarta (17/10). Berbagai karya street art ini dipasang sebagai bentuk protes terhadap minimnya fasilitas untuk difabel dan ruang berekspresi seni. TEMPO/Suryo Wibowo.

    Sebuah mural bertuliskan caci maki untuk aparat pemerintah kota Yogyakarta terlihat di pojok jalan Kolonel Sugiyono, Yogyakarta (17/10). Berbagai karya street art ini dipasang sebagai bentuk protes terhadap minimnya fasilitas untuk difabel dan ruang berekspresi seni. TEMPO/Suryo Wibowo.

    TEMPO.COJakarta - Para penyandang disabilitas atau difabel Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan jambore pada 12-13 November 2016. Jambore itu mempertemukan sejumlah penyandang cacat dengan kreasi seni, budaya, dan kerajinan hasil karya mereka. 

    Berlokasi di gedung milik Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, atau bekas kantor Komite Olahraga Nasional Dinas Kebudayaan menyiapkan dana Rp 125 juta dalam perhelatan ini. Dana itu berasal dari Dana Keistimewaan Yogyakarta. Ada 20 komunitas difabel yang ikut serta dalam Jambore Difabel.

    "Jambore Difabel baru pertama kali diadakan. Kami bersama Keraton Yogyakarta yang melaksanakan kegiatan ini," kata Kepala Seksi Sejarah Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta Bambang Marsamtoro, Rabu, 9 November 2016.

    Latar belakang Jambore Difabel berasal dari sejarah Yogyakarta, khususnya di keraton. Sejak dulu keraton memberikan tempat yang istimewa bagi kelompok penyandang disabilitas. Para penyandang disabilitas itu bergabung dalam Abdi Dalem Polowijan. Mereka memiliki peran yang penting dalam upacara adat resmi keraton. Saat ini jumlah Abdi Dalem Polowijan tinggal sedikit. 

    Dari aspek hukum, menurut Bambang, negara harus memberikan perhatian khusus kepada penyandang disabilitas sesuai Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 Pasal 5 ayat 1. Beleid itu pada intinya menyebutkan 21 hak penyandang disabilitas, di antaranya urusan kebudayaan dan pariwisata, berkomunikasi, dan memperoleh informasi. Selain itu, digelar pula hasil karya para difabel. 

    Hasil karya para difabel itu seperti hasil kerajinan, penampilan seni dari kaum difabel, serta pemutaran film karya mereka. "Potensi dan karya para penyandang disabilitas kami tampilkan dalam acara Jambore Difabel," ujar Bambang.

    Pada hari pertama ini, acara dimeriahkan kirab yang diawali di kompleks Kepatihan menuju eks gedung Komite Olahraga Nasional Indonesia atau Alun-alun Utara, pembukaan pameran, dan workshop komunitas. Juga ada penampilan potensi komunitas dan diskusi panel.

    Pada hari kedua, akan ditampilkan seni para difabel. Mereka yang ikut serta akan membuat rekomendasi untuk kemajuan para penyandang disabilitas. 

    MUH SYAIFULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.