Dua WNI Diculik di Sabah, Wiranto: Kita Sudah Berpengalaman

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto setelah menyambangi rumah Habibie di Patra Kuningan XIII, Jakarta, 19 Agustus 2016. TEMPO/Arkhe

    Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto setelah menyambangi rumah Habibie di Patra Kuningan XIII, Jakarta, 19 Agustus 2016. TEMPO/Arkhe

    TEMPO.COJakarta - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menyebutkan pemerintah menjalankan prosedur yang sama dalam menangani penculikan warga negara Indonesia di kawasan laut. Upaya itu diterapkan juga untuk menyelamatkan dua nakhoda WNI yang baru saja diculik di perairan Sabah, Malaysia, Sabtu lalu. 

    "Diproses biasa, kita sudah berpengalaman menangani penculikan," ujar Wiranto di gedung Kemenkopolhukam, Jakarta Pusat, Rabu, 9 November 2016.

    Pemerintah memiliki tim Crisis Center, yang dipimpin Menkopolhukam. Tim ini dibentuk untuk menangani sejumlah kasus penculikan WNI di perairan Malaysia dan Filipina. 

    Sejak Juli 2016, sudah tiga kali terjadi penculikan WNI di perairan Sabah. Mereka yang diculik umumnya bekerja di kapal ikan berbendera Malaysia. 

    Penculikan dua nakhoda WNI kali ini sudah dikonfirmasi Kementerian Luar Negeri. Kedua WNI yang diketahui berasal dari Buton, Sulawesi Tenggara, itu bekerja di dua kapal yang berbeda. Mereka menakhodai kapal SSK 00520 F dan SN 1154/4F. 

    Pemerintah RI sudah berkomunikasi dengan Malaysia melalui Konsulat Jenderal RI (KJRI) Kota Kinabalu dan KJRI Tawau demi mendapatkan informasi lebih rinci. Pasalnya, belum diketahui jelas siapa kelompok yang menculik kedua WNI tersebut. 

    Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu pun belum memberi perkembangan mengenai penculikan ini. Namun dia tegas mengatakan penculikan terjadi akibat ketidakdisiplinan pelaut. 

    "Sudah berapa kali kejadian, kok, tak peka? Kan tak bisa dong satu per satu orang dilihat (diawasi) di laut," ujar Ryamizard di Badan Diklat Bahasa Kemhan, Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa malam kemarin. 

    Ryamizard menyebutkan kerja sama pengawasan laut sudah mulai diterapkan tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Namun pengawasan itu harus didukung kesadaran setiap pelaut, terutama yang sering melintas di wilayah rawan perompakan. "Tugas kita, selamatkan. Satu orang anak bangsa pun harus kita selamatkan. Tapi bukan itu saja terus-menerus, banyak kerjaan lain.” 

    Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat ini menyesalkan penculikan dua WNI tersebut, terutama karena terjadi di wilayah yang jelas kerawanannya. "Saya sudah ingatkan hati-hati. Kalau di sana banyak penyanderaan ya jangan ke situ, tapi masih juga," tuturnya.

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.