Buka Munas LDII, Jokowi Minta Muslim Beretika di Medsos  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo memberikan pengantar dalam rapat koordinasi dengan para Panglima Komando daerah Militer dan Kepala Kepolisian daerah di Istana Negara, Jakarta, 24 Oktober 2016. Jokowi membahas dua hal yaitu mengenai Pungutan liar dan Pilkada. Tempo/Aditia Noviansyah

    Presiden Joko Widodo memberikan pengantar dalam rapat koordinasi dengan para Panglima Komando daerah Militer dan Kepala Kepolisian daerah di Istana Negara, Jakarta, 24 Oktober 2016. Jokowi membahas dua hal yaitu mengenai Pungutan liar dan Pilkada. Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.COJakarta - Presiden Joko Widodo kembali mendekati organisasi-organisasi Islam seusai demo 4 November dan dikritik Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. 

    Hari ini, Jokowi mendatangi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Salah satu tujuannya, meminta umat Islam tak kembali berseteru satu sama lain, tak terkecuali di media sosial.

    "Saya titip kepada seluruh keluarga besar LDII untuk menjaga etika di medsos," ujar Presiden dalam pembukaan Munas VIII LDII di Balai Kartini, Jakarta, Rabu, 9 November 2016.

    Sebagaimana diketahui, sejak pekan lalu, media sosial diramaikan perseteruan dan perbedaan pendapat antar-netizen soal apakah calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok telah menistakan agama saat menyinggung Surat Al-Maidah dalam pidatonya di Kepulauan Seribu, akhir September lalu. 

    Beberapa beranggapan Ahok telah menistakan agama, beberapa lain menilai tidak.

    Perseteruan itu juga terjadi di antara umat Islam. Sebagian mengutuk ucapan Ahok dan menyebutnya telah menistakan agama, tapi ada juga yang beranggapan bahwa ucapan Ahok salah dikutip dan salah ditafsirkan sehingga terkesan menistakan agama Islam. Perseteruan itu, dalam beberapa kesempatan, memicu pernyataan yang tidak beretika.

    Presiden beranggapan, debat atau diskusi tak beretika antar-umat Islam sudah terlalu sering terjadi di media sosial. 

    Saat membuka media sosial, kata Presiden, tak sulit menemukan percakapan yang saling menghujat, saling mengejek, saling menjelekkan, dan saling memaki. Jika hal itu dibiarkan, Presiden mengatakan tidak akan ada yang sadar ketika infiltrasi terjadi.

    "Ini ada infiltrasi (pesan) lewat medsos yang kita tidak sadar dan tidak kita saring," ujarnya. Jokowi juga berkata bahwa debat tak beretika di media sosial tak sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia, yang dikenal penuh sopan santun.

    Presiden menambahkan bahwa pemerintah tidak akan berdiam diri dan tanpa solusi soal masalah di media sosial ini. Ia mengaku sudah meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika membuat aturan etika berinternet dan hal itu disampaikan tahun lalu.

    "Saya kira, kalau kita bersama-sama, seluruh jajaran LDII melakukan itu juga, saya yakin yang jelek-jelek di media sosial akan menjadi baik," ucapnya.

    ISTMAN MP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.