Kisah Preman yang Bertobat Setelah Nongkrong di Perpustakaan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pengunjung bermain musik saat berbincang bersama-sama saat berada di

    Sejumlah pengunjung bermain musik saat berbincang bersama-sama saat berada di "scream room" dalam perpustakaan di Kairo, Mesir, 23 Oktober 2016. REUTERS/Mohamed Abd El Ghany

    TEMPO.CO, Makassar - Sudah setahun ini, Patrick Stevy Kaya belajar mengendalikan diri dari ketergantungan narkotika. “Mengalahkan banyak orang lebih gampang ketimbang mengalahkan diri sendiri, itu susah sekali, terutama saat godaan datang,” kata ayah dua anak ini saat ditemui Tempo di Peer Learning Meeting PerpuSeru, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin, 31 Oktober 2016.

    Selama belasan tahun, hidupnya Patrick menggelandang di jalanan. Rumah susun di Bidara Cina, Cawang, Jakarta Timur  yang dibelikan orang tuanya selama dia kuliah di Jakarta, dijualnya untuk memenuhi hasratnya menyuntikkan heroin ke tubuh. Demi bisa terus mengonsumsi narkoba, ia pun meningkat menjadi bandar. “Kuliah saya berantakan.”

    Yang mengerikan, ia nyaris tewas setelah ketahuan mencuri sekerat botol bekas minuman bersoda bapak kosnya saat menyewa bilik kamar kecil di kawasan Matraman, Jakarta Pusat. “Minuman itu mau saya jual Rp 14 ribu untuk beli drug,” ucapnya. Saat beraksi, ulahnya terpergok massa yang langsung mengejarnya. “Mereka nyaris membakar saya hidup-hidup.”

    Setelah itu, bukannya jera, Patrick makin menjadi-jadi. Ia pulang ke Ambon saat konflik rasial melanda di kota itu pada 1999.  “Saya menjadi preman dan jadi bandar.” Ia pun dibui selama empat tahun tapi hanya dijalaninya dua tahun empat bulan setelah mendapatkan pembebasan bersyarat.

    Saat keluar dari penjara pada 2012, seorang teman yang bekerja di Perpustakaan Kota Ambon memintanya agar sering berkunjung. “Awalnya saya bingung mau ngapain ke perpustakaan, preman kok disuruh baca,” kata pemuda berbadan tinggi besar ini.

    Sang teman mengajaknya konseling tentang tujuan hidup. “Konsultasi sama dia dan merilis perasaan dengan banyak membaca buku dan browsing berita di perpustakaan,” katanya. Tak sekadar membaca. Ia mengikuti beragam latihan yang diadakan perpustakaan seperti kursus programmer.

    Hingga akhirnya ia termotivasi untuk hidup yang benar. “Saya menikah dan membuka  toko sembako sampai sekarang,” katanya. Ia tetap pergi ke perpustakaan sebagai relawan dan berbagi kisah getirnya kepada pengunjung.  

    Kisah inspiratif lainnya dituturkan Syukri, 43 tahun asal Bima, Nusa Tenggara Barat.  Puluhan tahun hidupnya menganggur. Untuk mencukupi hidup keluarganya, ia bekerja serabutan.

    Hingga dua tahun lalu, ada petugas perpustakaan daerah mendatangi desanya dan  berniat membuka perpustakaan desa. Ia pun diajak membangun rumah kayu sebagai rumah perpustakaan. Sambil menata buku-buku, Syukri secara iseng membaca buku-buku pertanian, salah satunya cara menanam kopi yang benar. Di Provinsi Nusa Tenggara Barat, kopi Tambora cukup terkenal.

    Syukri bersama beberapa temannya tergerak untuk berkebun kopi tambora. Ia memanfaatkan perpustakaan di desanya sebagai tempat belajar langsung.Di perpustakaan desa yang kecil, ia juga belajar menggunakan computer, sesuatu yang tak terduga bakal disentuhnya. Ia mulai asyik berselancar melihat dunia luar melalui internet. 

    Syukri juga menelusuri bagaimana cara pengolahan dan pengemasan kopi.  “Saya juga membaca buku cara pemasaran kopi yang tepat,” ujarnya seraya memamerkan kopi Tambora yang sudah dikemasnya. “Pemasaran kopi terbantu, salah satunya saya ikut pameran tiap ada kegiatan Perpuseru,” ucapnya.

    Apa itu Perpuseru? Perpuseru  adalah perpustakaan seru yang digagas oleh Bill and Melinda Gates Foundation, sekaligus penyandang dana program ini pada November 2011. Perpuseru merupakan program strategi pengembangan perpustakaan.  “Tujuannya, untuk mengubah mindset bahwa perpustakaan tak sekadar tempat orang membaca buku,” kata Erlyn Sulistianingsih, Ketua Program Perpuseru pada pengujung bulan lalu.

    Erlyn menjelaskan, tujuan besar program Perpuseru adalah   membuat perpustakaan sebagai pusat belajar dan berkegiatan masyarakat berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Istilah sekarang, perpustakaan yang kekinian. Ada tiga langkah untuk mengembangkan perpustakaan, yakni dengan pelibatan masyarakat, memberikan peningkatan layanan komputer dan internet, serta melakukan advokasi.

    Perpuseru pun menggandeng perpustakaan daerah. Dari 34 perpustakaan di 16 provinsi  pada awal berdiri, kini Perpuseru sudah bekerja sama dengan 346 perpustakaan  desa di 18 provinsi.

    Kepala Perpustakaan dan Kearsipan Sikka, Nusa Tenggara Timur, Anicetus Da Rato menuturkan, sejak bergandengan dengan Perpuseru, ia banyak melakukan terobosan yang tak biasa. Setahun lalu, ia membuat kolam lele di halaman perpustakaan. “Saya mempelajari caranya di internet,” kata Anicetus yang menempuh S1 Fisipol dan S2 Manajemen di UGM Yogyakarta itu.

    Ribuan benih ikan lele ia sebar dan kini lele-lele itu menjadi tempat belajar mahasiswa perikanan dan masyarakat biasa yang ingin mengubah nasibnya. Tak hanya lele, ia juga menanam pohon sengon di lahan perpustakaan. “Pohonnya sekarang sudah setinggi 1,5 meter, menjadi hutan kecil dan tempat belajar mahasiswa Kehutanan.”

    ISTIQOMATUL HAYATI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.