Belajar Ekologi di Sekolah Alternatif Ath-Thaariq Garut

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nissa Wargadipura (44) di Kampung Citeureup, Sukagalih, Garut. Nisa mendirikan Pesantren  agroekologi Ath Thaariq di Garut, yang bertujuan menerapkan konsep ekologi dalam produksi pertanian. TEMPO/Prima Mulia

    Nissa Wargadipura (44) di Kampung Citeureup, Sukagalih, Garut. Nisa mendirikan Pesantren agroekologi Ath Thaariq di Garut, yang bertujuan menerapkan konsep ekologi dalam produksi pertanian. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Garut - Sistem pendidikan di Indonesia yang seragam dan kurang memberikan kebebasan kepada siswa mendorong beberapa kelompok masyarakat membangun sistem pendidikan alternatif.  Mereka turun tangan mengambil peran dalam pendidikan anak. Penggerak-penggerak sekolah alternatif ini berkumpul di Yogyakarta pada 21-23 Oktober lalu dalam forum Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif.

    Hasil pertemuan itu merekomendasikan kepada pemerintah supaya memberi alternatif pendidikan bagi masyarakat. Alasannya, kurikulum pendidikan disusun pemerintah berdasarkan keseragaman, bukan kesetaraan. “Anak punya hak untuk menentukan siapa gurunya, sekolahnya, model pendidikannya,” kata pemimpin sidang komisi Dian Rubianty saat penutupan pertemuan tersebut.

    Pertemuan itu menyepakati kurikulum pendidikan alternatif harus memberikan ilmu pengetahuan yang kontekstual dan terapan. Harapannya, anak dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu sekolah dengan metode pendidikan alternatif adalah pesantren Ath-Thaariq, di Garut, Jawa Barat.
     
    Tempo yang mengunjungi sekolah itu pekan lalu merasakan aroma pedesaan yang begitu kental.  Meski berada di kawasan perkotaan,  hiruk-pikuk modernisasi tidak begitu kentara. Bangunan pesantren ini diapit pesawahan tepatnya berada di ujung Kampung Cimurugul, Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

    Hanya dua bangunan yang berdiri tegak. Pada bagian depan terdapat bale-bale bambu bertingkat dua lantai tanpa dinding dan di sampingnya bangunan rumah permanen yang cukup sederhana. Sementara di kanan dan kiri bangunan banyak terdapat berbagai macam tumbuhan termasuk ilalang. Sepintas halaman tak terurus dan terkesan berantakan.

    Sore itu,  belasan anak usia SMP dan SMA berkumpul di bale-bale. Mereka tengah asyik berdiskusi mengenai tanaman yang ada di sekitar halaman. Ada dari mereka yang terlihat menyirami tanaman. Sebagian lainnya mendengarkan penjelasan dari pengajar mengenai manfaat dan kegunaan tanaman.

    Itulah konsep yang menjadi unggulan pesantren Ath-Thaariq. Di pesantren ini berdiri sekolah ekologi. Sekolah yang mengajarkan siswanya untuk menjaga alam dengan keseimbangan ekosistemnya. Selain itu siswa juga dituntut agar bisa bertahan hidup dengan memanfaatkan alam tanpa merusak habitat maupun ekosistemnya.

    Pesantren ini digagas pada 2008  oleh Nissa Wargadipura, 43 tahun, bersama suaminya Ibang Lukmanurdin, 44 tahun. Nissa dan Ibang merupakan aktivis pergerakan yang peduli terhadap kesejahteraan petani. Pada awal berdiri, jumlah siswanya sebanyak 20 orang. Mereka kebanyakan berusia sekolah tingkat menengah pertama dan atas.

    “Siswa angkatan pertama kebanyakan anak teman-teman saya di sekitar Garut,” ujar Nissa, Kamis, 3 November 2016.

    Dalam mengasuh anak didiknya, pasangan itu berbagi tugas. Ibang yang berasal dari lingkungan pesantren bertugas mengajarkan para santri ilmu keagamaan ditambah materi kajian ekologi berperspektif al-Quran. Sementara Nissa berfokus memberikan pembelajaran agroekologi.

    Pola pembelajaaran sekolah ekologi ini tidak seperti layaknya di sekolah formal. Pembelajaran siswa tidak hanya dilakukan di dalam ruang dengan patokan jam pelajaran.  Materi yang disampaikan secara bertahap mulai dari Subuh dengan materi pengajian al-Quran.

    Di siang harinya,  siswa menimba ilmu di sekolah formal yang tidak jauh dari lingkungan pesantren. Pulang sekolah,  sekitar pukul 15.00, pembelajaran ekologi kembali dilakukan secara teori maupun praktek. Kegiatan yang dilakukan berupa pembenihan, penanaman, perawatan tanaman, memanen hingga pengolahan pasca panen.

    “Kami juga melakukan pengolahan produksi hasil panen agar mempunyai nilai ekonomis,” ujar Nissa.

    Pembelajaran awal yang diberikan berupa penanaman sayuran non populer asli Garut. Tanaman itu di antaranya kenikir, gayong, kacang kotopes, dan surawung gunung. Para siswa diminta menanamnya hingga bisa dipanen. 
     
    Tanaman lokal dipilih karena bisa tumbuh di berbagai cuaca. Selain itu, sayuran-sayuran tersebut  tidak memerlukan perawatan  rutin, sehingga memudahkan siswa. Setelah panen,  siswa dituntut mengolahnya agar dapat dikonsumsi sendiri.  Pengolahan pasca panen ini bertujuan menciptakan ketahanan pangan dan konversi pangan.   

    Selain itu para siswa juga diajarkan teknik menanam tanaman herbal. Pada proses pasca panen para siswa diminta mengolahnya hingga bernilai ekonomi. Beberapa karya siswa dari tanaman herbal adalah  garam rosela, gula kristal, dan temulawak. “Sebelum dipasarkan keluar, kebutuhan pesantren harus tercukupi dulu. Baru kalau berlebih kami pasarkan keluar,” ujar Nissa.

    Seiring berjalannya waktu, sekolah Ath-Thaariq banyak diminati orang tua murid. Kini siswa yang menetap di pesantrennya berjumlah 30 orang. Mereka berasal dari Bandung, Jakarta, Palu, Padang, Bekasi, dan daerah lainnya. Promosi sekolah dilakukan dengan cara memamerkan kegiatan siswa melalui blog dan media sosial.

    Menurut dia, banyak orang tua yang berminat untuk menyekolahkan anaknya di Ath-Thaariq. Namun dia membatasi 30 orang supaya penyampaian ilmu berjalan efektif. Siswa sekolah ekologi tidak dipungut biaya. “Siswa di sini datang tidak bawa bekal, tapi pulang harus bawa bekal,” tutur Nissa. Kegiatan yang dilakukan siswa sudah mulai menunjukkan dampak ekonomi. Dari hasil penjualan karyanya, para siswa saat ini memiliki kas sebesar Rp 12 juta.  

    Nissa menilai, sistem pendidikan yang dikembangkan Ath-Thaariq tidak dimiliki oleh sekolah formal. Sistem pendidikan yang terjadi saat ini, menurut dia, hanyalah bertujuan mencetak generasi pekerja. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh para guru zaman dahulu telah luntur.

    Para guru yang saat ini mengajar di sekolah formal hanya memberikan pengajaran, tidak memberikan pembelajaran dan pendidikan. “Sehingga siswa di sekolah formal tidak memiliki kepekaan sosial untuk mengembangkan dirinya,” dia mengungkapkan.

    Selain itu, pola pembelajaran di sekolah formal memiliki sekat pembatas antara guru dan siswa. Akibatnya,  siswa tidak bisa mengembangkan potensi dirinya. Berbeda dengan yang dilakukan di sekolah ekologi.  Guru dengan murid tidak ada jarak. Murid dibimbing melalui pendekatan yang sesuai dengan karakter anak.

    Contoh lain keberhasilan  alumnus sekolah ekologi adalah pembentukan komunitas-komunitas ekologi. Komunitas yang telah dibentuk antara lain ialah Saung Rangkai Tegal Lega Bungbulang, Buruang Bumi Agroekologi Tangoli Cibalong, Rumah Kreasi Hanum Cilacap, serta Pesantren Agraria dan Agroekologi Halimun Bogor. “Kami berharap siswa berpikir dan bertindak untuk menyelamatkan ekologi, sosial, dan ekonomi,” kata Nissa.

    Sekolah alternatif di Jawa Barat juga terdapat di Kampung Kabuyutan, Cimahi, Bandung, Jawa Barat. Di tempat itu berdiri Sekolah Semesta Hati, sebuah sekolah berbasis alam yang berdiri pada 2008.  Di sini pun para siswa  tak melulu membaca buku, melainkan diajak mengenal alam dan isinya.

    Setiap tempat bisa menjadi kelas bagi mereka, toleransi jelas tampak dari keberagaman agama, status sosial, bahkan fisik. Spesialnya, anak-anak berkebutuhan khusus juga ikut belajar bersama tanpa diistimewakan. Alasannya sederhana, semua anak berhak mendapat pendidikan. Hampir 30 persen anak berkebutuhan khusus bersekolah di Semesta hati.

    “Sekolah ini awalnya dari komunitas mahasiswa pendidikan yang melihat pendidikan itu menjenuhkan, tidak merata. Kami ingin membuat pendidikan yang berbeda, tempat anak bisa melihat alam,” ujar Widdi Riana Nitalgia, Kepala Sekolah Semesta Hati.

    Mampu bertahan selama delapan tahun bukan berarti Semesta Hati melenggang tanpa hambatan. Sekolah ini mengalami hambatan akibat keterbatasan pengajar serta biaya operasional sekolah. Terdapat 19 siswa sekolah dasar dan 40 siswa menengah pertama yang mengikuti proses belajar di tempat, sisanya merupakan siswa yang belajar di luar kelas lantaran terbentur biaya.

    Soal biaya, Semesta Hati melakukan berbagai inovasi untuk memenuhi kebutuhan operasional.  Publikasi penerimaan murid baru mereka akali dengan memanfaatkan media sosial, pencarian murid pun dilakukan para pengajar terhadap anak-anak di sekitar sekolah yang belum mengecap bangku pendidikan. Subsidi silang juga dilakukan sebagai upaya penyetaraan fasilitas bagi anak kurang mampu.

    “Di sekolah ini siswanya tidak ada bayaran tetap. Kelas belajarnya  di garasi, pengajarnya tidak dibayar. Kami sebut ini program jihad,” ujar Widi.

    SIGIT ZULMUNIR (GARUT) | DWI RENJANI (BANDUNG)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.