Kapolri: Kelompok Radikal Ambil Untung dari Demo 4 November

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa demonstran melintasi mobil polisi saat terlibat bentrok dengan pihak kepolisian saat berdemo di depan Istana Negara, Jakarta, 4 November 2016. Sedikitnya tiga mobil polisi hangus terbakar. TEMPO/Subekti

    Massa demonstran melintasi mobil polisi saat terlibat bentrok dengan pihak kepolisian saat berdemo di depan Istana Negara, Jakarta, 4 November 2016. Sedikitnya tiga mobil polisi hangus terbakar. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Denpasar - Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian mengatakan kelompok radikal yang terhubung dengan jaringan teror ikut mengambil keuntungan dari demonstrasi 4 November 2016 di Jakarta. “Tapi mereka hanya sekedar menjadi eksponen dari demo damai dan tidak melakukan aksi teror. Jadi itu bukan masalah bagi kami,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian di sela Sidang Umum Interpol di Nusa Dua, Bali, Senin 7 November 2016.

    Identifikasi polisi terhadap pergerakan kelompok radikal itu, menurutnya, berasal dari info intelijen polisi. Pada saat ini polisi masih terus memantau aktivitas mereka untuk mencegah adanya serangan. Tahun ini, kata Tito, ada tiga rencana serangan yang berhasil digagalkan. Mengenai jumlah pendukung kelompok radikal ini, menurutnya, tidak bisa disebutkan secara pasti. “Yang jelas mereka itu adalah kelompok minoritas dibanding sebagian besar rakyat Indonesia,” ujar Tito.

    Baca juga:
    Polisi Duga Massa Sudah Tahu Demo 4 November Bakal Ricuh
    Diperiksa Kasus Kerusuhan 4 November, Ketua HMI Tak Datang

    Adapun jumlah pendukung kelompok radikal yang baru pulang dari Suriah berjumlah 50 orang. Polisi melakukan pendekatan keamanan dan persuasif pada kelompok ini. Kapolri mengatakan pengaruh ISIS memang tidak bisa dihilangkan sama sekali selama akar masalahnya belum dapat terselesaikan. Yakni, kata dia, adanya pemberontakan di Suriah yang melibatkan kekuatan negara barat dan Rusia.

    “Dinamika itulah yang kami cermati untuk meminimalkan dampaknya di Indonesia,” tutur dia.

    Baca juga:
    Jusuf Kalla Ajak Interpol Hadang Terorisme di Internet
    Dua Politikus PDIP Dampingi Pemeriksaan Ahok di Mabes Polri

    Mengenai peran Interpol secara langsung dalam penanganan terorisme, Kapolri berujar, sifatnya lebih koordinatif. Dia mencontohkan, bila ada pelaku kejahatan di satu negara, maka negara itu bisa meminta Interpol menerbitkan red notice atau peringatan sehingga penjahat itu bisa ditangkap di negara tersebut.

    ROFIQI HASAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.