Jokowi Ancam Politikus Pengadu Domba Bangsa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima jaket

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima jaket "media darling" dari komunitas pers nasional diwakili Wakil Ketua Dewan Pers Margiono (kanan) di Auditorium TVRI Jakarta, 27 April 2015. ANTARA/Yudhi Mahatma

    TEMPO.COJakarta - Bahaya politisasi kembali disinggung Presiden Joko Widodo setelah pernyataannya kepada wartawan tentang demo besar 4 November yang diduga aktor politik. Ia berkata hal seperti itu harus ditindak aparat penegak hukum.

    "Saya telah memerintahkan (penegak hukum) agar tidak memberi toleransi gerakan yang ingin memecah belah, mengadu domba bangsa dengan provokasi dan politisasi," ujar Presiden seusai apel militer di Markas Besar TNI Angkatan Darat, Senin, 7 November 2016.

    Saksikan: Presiden Jokowi: Demo 4 November Ditunggangi Aktor Politik

    Baca: Kasus Penistaan: Ahok Dicecar Bareskrim, Apa Reaksi Jokowi?

    Pada Sabtu dinihari lalu, Presiden Joko Widodo, lewat pernyataannya kepada wartawan, menuding ada aktor politik di balik demo 4 November 2016. Aktor politik itu, menurut Presiden, sudah membuat demo 4 November yang seharusnya berakhir dengan damai malah berakhir dengan kerusuhan.

    Baca: Berburu #JaketJokowi, Zara: Tunggu Stok Berikutnya

    Berbagai nama politikus memang berseliweran sebelum, saat, dan sesudah demo yang diinisiasi Front Pembela Islam tersebut. Beberapa di antaranya Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Fadli Zon dan Fahri Hamzah, yang terjun langsung ke lokasi pada hari demonstrasi. Sementara itu, sebelum demo, nama mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono disebut-sebut berada di balik demonstrasi tersebut.

    Semua politikus tersebut sudah membantah soal tudingan yang beredar. SBY malah menuding tuduhan yang datang kepadanya akibat intelijen pemerintah yang salah.

    Presiden Jokowi melanjutkan pernyataannya bahwa ancaman politisasi atau aktor politik pemecah belah bangsa itu perlu ditegaskan kembali agar aparat penegak hukum tidak lupa. Bahkan hal itu perlu diingatkan berulang kali agar tidak pernah dilupakan.

    "Saya hanya ingin mengingatkan. TNI dan Polri saya pandang sebagai perekat yang bisa mempersatukan bangsa. Kita ada 17 ribu pulau dengan suku, ras, dan agama berbeda-beda," ujarnya.

    Ditanya soal aktor politik yang ia singgung pada pernyataan 4 November dan apakah perannya masih mengancam, Presiden enggan memberikan jawaban tegas. Menyebut nama dari aktor politik itu pun tidak. "Kita lihat nanti. Kita lihat nanti," ucapnya.

    ISTMAN MP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.