Demo 4 November, 1.000 Warga Sumatera Selatan ke Jakarta  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan massa dari Gerakan Mahasiswa Pembebasan melakukan aksi demo di depan Istana Negara, Jakarta, 2 November 2016. Dalam aksinya massa menuntut kepada Presiden Joko Widodo memerintahkan Polri untuk menangkap Ahok terkait penistaan terhadap Al-Quran dan Ulama. TEMPO/Subekti

    Puluhan massa dari Gerakan Mahasiswa Pembebasan melakukan aksi demo di depan Istana Negara, Jakarta, 2 November 2016. Dalam aksinya massa menuntut kepada Presiden Joko Widodo memerintahkan Polri untuk menangkap Ahok terkait penistaan terhadap Al-Quran dan Ulama. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Palembang - Majelis Ulama Indonesia Sumatera Selatan memastikan akan ada 1.000 lebih umat Islam berangkat ke Jakarta secara bergelombang. Mereka akan bergabung dalam aksi unjuk rasa nasional di depan Istana Negara besok terkait dengan dugaan penistaan agama oleh calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. 

    Yogi Vitagora, dari Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI setempat, menjelaskan keberangkatan umat tersebut tanpa dikoordinasi oleh MUI. Mereka berangkat secara mandiri. Kepada Tempo, Rabu, 2 November 2016, ia menjelaskan hingga saat ini pihaknya telah mendengar kabar bahwa pengunjuk rasa sudah tercatat 500-1.000 orang lebih. "Berangkatnyo tidak dikoordinasi jadi berangkatnya masing-masing," katanya. 

    Sebelumnya MUI mendatangi Polda Sumatera Selatan, Kamis, 6 Oktober 2016, untuk melaporkan Ahok lantaran dinilai telah menistakan agama Islam. Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Sumatera Selatan, kata Yogi, mengetahui Ahok telah melakukan pelecehan terhadap ayat suci Al-Quran setelah melihat tayangan video berbagi YouTube dan pemberitaan berbagai media.

    Sementara itu, tokoh pemuda sekaligus pengacara di Palembang, Febuar Rahman, memastikan ia akan bergabung dalam aksi tersebut dan akan berangkat langsung ke Jakarta. Menurut dia, aksi tersebut murni soal ketersinggungan umat Islam yang merasa agamanya dihina, dan juga akibat lambatnya penanganan proses hukum terhadap pelaku penista agama. "Kami pakai dana pribadi tanpa ada bantuan dari pihak mana pun," katanya. 

    Lebih lanjut, dijelaskannya, keikutsertaan dalam aksi itu selaku pribadi dan juga mewakili umat muslim yang terhina atas penistaan agama dan kitab suci Al-Quran.

    PARLIZA HENDRAWAN


     

     

    Lihat Juga