Usai Panen Padi Inpari, Jokowi Mengajak Warga Desa Selfie  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi didampingi Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo (kiri) saat melakukan panen raya dan melihat usaha tani Mina Padi di Desa Trayu, Boyolali, 29 Oktober 2016. Presiden juga membuka acara Hari Pangan Sedunia di Komplek Pemerintahan Boyolali. TEMPO/Denny Sugiharto

    Presiden Jokowi didampingi Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo (kiri) saat melakukan panen raya dan melihat usaha tani Mina Padi di Desa Trayu, Boyolali, 29 Oktober 2016. Presiden juga membuka acara Hari Pangan Sedunia di Komplek Pemerintahan Boyolali. TEMPO/Denny Sugiharto

    TEMPO.CO, Boylali - Seperti di daerah-daerah lain, tidak ada sambutan mewah menyambut kedatangan Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke areal persawahan di perbatasan Desa Trayu dan Tanjungsari, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, pada Sabtu, 29 Oktober 2016. Tak ada tenda, kursi empuk, apalagi tari-tarian tradisional.

    Hanya ratusan warga yang setia berdiri di sepanjang tepi jalan menuju lokasi kunjungan Jokowi dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia ke-36. Demi bertemu presiden yang selama ini hanya mereka lihat di televisi, warga rela berjemur di bawah terik matahari sejak pukul 09.00.

    Setelah gelisah menunggu selama 1,5 jam, warga langsung bersorak saat iring-iringan mobil yang ditumpangi Jokowi dan sejumlah pejabat lain mulai tampak di ujung jalan. Sorak sorai warga tidak berhenti meski Jokowi bersama Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sanjoyo langsung terjun ke sawah.

    Selama Jokowi dan dua menteri menyaksikan pengoperasian mesin pemanen kombinasi (combine harvester) merontokkan padi jenis Inpari 32 HDB, tidak sedikit jurnalis yang mengeluh. Sebab, Jokowi lebih banyak menghadapkan wajahnya ke arah warga di kejauhan yang terus memanggil namanya seraya melambaikan tangan.

    Usai memanen padi, Jokowi langsung  meninjau lahan minapadi di sawah seberang jalan. Hanya tiga menit waktu yang diluangkan Jokowi untuk memberikan keterangan kepada wartawan. “Padi Inpari 32, ini bisa sampai 10-11 ton (per hektare). Namun ini baru dicoba untuk 100 hektare di Boyolali. Artinya, hampir dua kali lipat. Kalau sudah benar, baru akan kita perluas lagi,” kata Jokowi.

    Melihat data yang ada, Jokowi menambahkan, pada kurun September-Oktober 2015, stok beras nasional hanya 1,03 juta ton. “Sekarang stok kita 1.980.000 ton, kira-kira sampai Mei 2017. Peningkatannya drastis sekali. Tahun ini, air melimpah. Kedua, penggunaan benih-benih unggul ini juga,” kata Jokowi. Dia juga memastikan sampai akhir tahun tidak akan ada impor beras.

    Setelah menemui wartawan, Jokowi segera berdiskusi dengan puluhan petani selama sekitar 10 menit. Wartawan dilarang mendekat. Sebelum meninggalkan lokasi kunjungan, Jokowi berjalan kaki menemui ratusan warga yang sejak awal menanti kehadirannya. Seperti biasa, Jokowi tak lupa membawa sejumlah bingkisan meski hanya berupa buku dan alat tulis.

    Ketatnya barikade aparat keamanan seolah tak jadi penghalang bagi warga untuk terus merangsek demi meraih tangan Jokowi. Bayi-bayi dalam gendongan mulai menangis karena ibunya berdesak-desakan dengan aparat. Di ujung perjumpaan yang melelahkan itu, sebelum masuk mobil, Jokowi tiba-tiba berhenti dan melayani beberapa warga yang mengajaknya berfoto selfie.

    “Kami tidak menyangka Pak Jokowi justru memanggil kami untuk selfie. Kami bisa memotret beliau dari jauh saja senangnya bukan main,” kata Niken Hermawati dan ibunya, Siti Sukatmi, warga Desa Cembangan, Kecamatan Banyudono. Beruntung telepon seluler Niken masih menyala meski sempat jatuh dan terinjak-injak saat berdesak-desakan.

    Hanya dalam hitungan detik, seorang anggota pasukan pengamanan presiden mendokumentasikan foto yang bakal menjadi sejarah bagi Niken dan ibunya. “Foto ini akan kami cetak dalam ukuran besar. Seumur hidup, mungkin hanya hari ini, kami bisa berfoto bersama presiden,” kata Niken sambil kegirangan dan dikerubuti warga lain yang hendak melihat foto di layar ponselnya.

    DINDA LEO LISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.