Wiranto Dalami Kerusuhan di Manokwari  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menkopolhukam Wiranto bersama Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Rashad Mahmood (kiri) usai melakukan pertemuan bilateral, di kantor Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta, 20 September 2016. Pertemuan ini membahas mengenai kerja sama bidang pertahanan, bidang pendidikan kedua negara dan pemberantasan terorisme, selain itu Pemerintah Indonesia juga menawarkan alutsista produk dalam negeri seperti Anoa, senapan serbu, dan pesawat CN-235 kepada pemerintah Pakistan. TEMPO/Imam Sukamto

    Menkopolhukam Wiranto bersama Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Rashad Mahmood (kiri) usai melakukan pertemuan bilateral, di kantor Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta, 20 September 2016. Pertemuan ini membahas mengenai kerja sama bidang pertahanan, bidang pendidikan kedua negara dan pemberantasan terorisme, selain itu Pemerintah Indonesia juga menawarkan alutsista produk dalam negeri seperti Anoa, senapan serbu, dan pesawat CN-235 kepada pemerintah Pakistan. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto meragukan kerusuhan yang terjadi di Manokwari, Papua Barat, berkaitan dengan pemilihan kepala daerah serentak pada 2017. Menurut Wiranto, kericuhan itu dipicu oleh demonstrasi warga setelah tewasnya seorang bocah di sebuah warung makan di Manokwari. "Itu sudah masuk laporannya. Kami selidiki dulu, jangan buru-buru dihubungkan dengan pilkada,” kata Wiranto di kantornya di Jakarta, Kamis, 27 Oktober 2016.

    Meski begitu, Wiranto mengakui Papua adalah salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan pilkada tertinggi. Ia mengatakan informasi tentang kerusuhan tersebut masih belum rinci. “Laporan itu insidental. Orang mabuk-mabuk, kemudian merusak warung, dan terjadi insiden, itu kapan saja bisa terjadi,” ujar Wiranto yang juga mantan Panglima ABRI tersebut. Wiranto mengatakan pihaknya masih akan mendalami penyebab kerusuhan itu. “Saya minta diteliti lebih jauh karena masih simpang-siur. Kami tunggu laporan yang resmi," kata dia.

    Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, mengecam keras kerusuhan yang terjadi di Manokwari, Papua Barat, tadi malam. Dalam peristiwa tersebut, menurut Natalius, dua warga Papua tewas serta lima lainnya kritis dan luka-luka. Natalius mengatakan, berdasarkan laporan lembaga bantuan hukum, warga, dan keluarga korban, kerusuhan itu dipicu oleh tewasnya bocah asli Papua, Vigal Pauspaus, di warung makan yang dijaga warga Makassar, Sulawesi Selatan. Akibat kejadian itu, warga Papua menggelar demonstrasi.

    Saat warga memprotes, aparat kepolisian mengeluarkan tembakan. Salah satu warga bernama Onesimus Rumayom, 40 tahun, tewas. Lima lainnya terluka—dua di antaranya kritis, yakni Erik Inggabouw, 18 tahun, dan Tinus Urbinas, 38 tahun. Hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari Kepolisian Daerah Papua Barat.

    ARKHELAUS W. | ANGELINA ANJAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.