BNPT: Pemicu Radikalisme Tak Lagi Kemiskinan dan Pendidikan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Suhardi Alius usai Rapat Koordinasi Khusus di Kemenkopolhukam, Jakarta, 22 Agustus 2016. TEMPO/Yohanes Paskalis

    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Suhardi Alius usai Rapat Koordinasi Khusus di Kemenkopolhukam, Jakarta, 22 Agustus 2016. TEMPO/Yohanes Paskalis

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Suhardi Alius mengatakan radikalisme di era modern menyerang masyarakat yang tanggap teknologi. Penyebaran paham radikal  di sosial media, kata Suhardi, begitu masif.

    "Jadi sudah bergeser dari sekedar masalah variabel kemiskinan atau kurangnya pendidikan," ujar Suhardi usai mengikuti rapat Evaluasi Dua Tahun Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla di komplek Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Rabu, 26 Oktober 2016.

    Contoh terbaru, ujar Suhardi, adalah penyerangan polisi di Cikokol, Tangerang, oleh Sultan Azianzah yang diduga terprovokasi ajaran radikal lewat dunia maya. Dari penyelidikan polisi, pria 22 tahun tersebut terafiliasi dengan jaringan radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) namun melakukan aksinya sendirian.

    "Lone wolf (serangan tunggal) makin banyak. Bukan cuma di Indonesia, lho. Di Paris, di Jerman, itu juga," ujarnya.

    Suhardi berkata BNPT sedang  berunding dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika terkait regulasi penggunaan Internet yang berpotensi menjadi lahan penyebaran paham radikal. Dia mengungkapkan sejumlah hambatan dalam proses tersebut

    "Kalau situs Internet bisa kita block, tapi media sosial sulit. Ini yang sedang diupayakan, kalau medsos harus dikemas," ujar Suhardi.

    Sultan yang tewas setelah menebar aksi teror di Tangerang, diketahui sebagai seorang ahli bidang IT. Dugaan atas Sultan yang terpapar radikalisme via internet itu menjadi salah satu landasan penyelidikan polisi.

    Tim digital forensik Mabes Polri pun sempat meneluri konten akun blog dan website Sultan untuk memastikan jaringan yang mungkin terkait dengan warga Lebak Wangi, RT 04 RW 03, Kelurahan Sepatan, Kabupaten Tangerang itu.

    Sebelum menyerang, Sultan yang meninggal karena kehabisan darah setelah ditembak polisi, sempat menempelkan stiker berlambang ISIS di pos polisi.

    Menurut Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, Sultan sempat hampir dibaiat oleh pimpinan Jamaah Ansharut Daulah, Aman Abdurrahman, dan Jamaah Ansharut Tauhid, Abu Bakar Baasyir.

    YOHANES PASKALIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.