Ibaratkan Ahok dengan Donald Trump, JK: Mulutmu Harimaumu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jusuf Kalla (kiri) bersama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (kanan) di kediaman Jusuf Kalla di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Minggu (23/9). ANTARA/M Agung Rajasa

    Jusuf Kalla (kiri) bersama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (kanan) di kediaman Jusuf Kalla di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Minggu (23/9). ANTARA/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta calon gubernur untuk tidak bicara kasar dan memancing isu suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA). Ini diungkapkan Kalla terkait dengan kasus dugaan penghinaan Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 51 yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

    "Saya lihat kasus Surat Al-Maidah ayat 51, bukan ayat itu yang dipersoalkan adalah kata bohong," ujar Kalla, di Kantor Wapres, Jakarta Pusat, Jumat, 21 Oktober 2016.

    Kalla lalu mengutip pidato Ahok di Kepulauan Seribu yang menyebut Surat Al-Maidah ayat 51. "Ibu-ibu, saudara-saudara sekalian, kalau tidak mau pilih saya karena dibohongin dengan memakai Al-Maidah ayat 51 dan macam-macam."

    Kalla lantas menghilangkan kata bohong. Kalimatnya jadi seperti ini, "Saudara-saudara sekalian, apabila tidak pilih saya karena ayat Al-Maidah itu ya enggak apa-apa."

    Jusuf Kalla menjelaskan andaikata Ahok tidak menyebut kata 'bohong', tidak akan muncul kemarahan dan kehebohan dari banyak orang. "Marah enggak orang, enggak marah, kan," kata Kalla.

    Dia mengibaratkan kasus Ahok dengan calon Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurut dia, dalam survei atau polling, pemilih Trump menurun karena sosok Trump suka menuduh kiri-kanan. "Jadi ya, mulutmu harimaumu, itu saja masalahnya, masalah Jakarta itu," kata Kalla.

    Menurut Kalla, dalam demokrasi, orang bebas memilih sesuai apa yang disuka, termasuk alasan primordial soal kesamaan agama.

    Jika ada orang menyarankan memilih figur tertentu dengan alasan tersebut ke kalangan internal, hal tersebut boleh-boleh saja. "Kalau di kalangan sendiri silakan saja berdiskusi, bahwa suka si A, si B, silakan saja," kata Kalla.

    Kecenderungan orang memilih figur pemimpin dengan kesamaan agama atau faktor lain, kata Kalla, adalah hal yang terjadi di semua negara.

    Bahkan hal tersebut terjadi di Amerika, sehingga butuh 240 tahun sejak Amerika merdeka, orang hitam baru bisa jadi presiden. Juga, butuh 175 tahun sejak merdeka, orang Katolik di Amerika bisa jadi presiden. "Seluruh calon Katolik gagal sebelum John F. Kennedy," kata Kalla.

    Karena itulah, kata Kalla, upaya menjaga keharmonisan harus dijaga kedua pihak, baik mayoritas maupun minoritas.

    "Toleransi itu harus kedua belah pihak, toleransi yang mayoritas, tapi yang minoritas juga harus toleran, jangan satu pihak, dua-duanya harus toleran. Itu harus dipahami begitu supaya kehidupan beragama yang harmonis terjadi," kata Kalla.

    AMIRULLAH

    Baca juga:
    Menteri Ini Ajak Muslim Makan Babi, Alasannya adalah...
    Ahmad Dhani Jadi Calon Wakil Bupati, Maia Estianty Bereaksi
    Telan Buaya, Ular Ini Meledak


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.